#Surat Yang Tertunda 3
Kudus, 19 Jun 2012 19:07
From : Putri Marajusa
Untuk kesekian
kalinya aku menggores pena di kertas ini untuk kukirim dan berharapa dapat kau
baca. Tapi pada kenyataannya surat ini hanya terpajang di sebuah situs blog
pribadiku. Aku menyimpan di ruangan maya ini pada suatu ketika kau menjelajah
dunia maya, kau menemukan blog pribadiku dan membacanya. Pada saat
itulah kau mengetahui gudang surat yang tertunda.
Surat yang akan
kukirim padamu tapi saat ini kita tak pernah bertemu. Lantas bagaimana caranya
agar surat-surat yang tertunda berada dalam genggamanmu? Aku tak tahu. Bertemu
denganmu saja hanya dalam sebuah mimpi yang terkadang tak masuk akal. Aku di
sini bersama goresan sederhana, kutumpahkan segala rasa dan asa.
Aku hanya dapat
berdoa agar suatu saat nanti bisa bertemu denganmu dalam sebuah ikatan suci.
Hari ini kuambil sebuah tinta lalu kuukir diatas kertas membentuk sebuah
kalimat sederhana untukmu. Aku tidak tahu bagaimana bertemu denganmu. Aku
sangat ingin bertemu denganmu.
Tahukah kamu? Omku
pernah berkata padaku untuk berhenti sekolah. Tapi aku tidak ingin berhenti di
tengah jalan. Aku ingin terus berjalan ke depan hingga mendapatkan apa yang aku
cita-citakan. Namun Tuhan tidak pernah berhenti memeberiku cobaan.
Aku benar-benar
bingung. Untuk itu aku goreskan surat ini untukmu, sayang. Agar kamu tahu
masalah apa yang tengah aku hadapi sekarang. Dulu sebelum kamu pergi, kamu yang
selalu setia menjadi tempat curahan hatiku.
Dan Insya Allah
hari liburan esok aku ingin ke rumahmu dengan memberimu sebuah kejutan
kecil. Aku benar-benar rindu padamu. Kamu hanya akan menjadi pacar khayalan.
Setiap hari aku hanya berkhayal kamu menjadi pacar khayalan.
***
Moh. Akrom, saat
ini namamu masih menggenang dalam ingatanku. Kapan ya kita dapat bertemu?
Sesungguhnya aku ingin sekali kamu memaafkan aku atas perasaan yang tak jelas
ini. Aku ingin mengulang masa-masa dulu. Masa-masa indah di kelas satu.
Harapanku pada
surat tertunda yang ketiga ini, segala impian Marajusa dapat terwujud satu
persatu. Aku juga ingin menyampaikan hal yang penting padamu. Aku sangat
merindukanmu. Lagu dangdut selalu rindu saat kuputar, aku selalu melelehkan
airmata. Teringat padamu.
Tuhan...
Tolong beri aku
kesempatan untuk bertemu dengannya. Tolong satukan kami dalam sebuah ikatan
suci.
Tuhan...
Aku tidak ingin
menjalani hidup dengan nasib yang mengenaskan.
Tuhan...
Aku ingin
seperti mereka. Layaknya sang Putri raja hidup dengan kebahagiaan.
Tuhan...
Berbagai kritik
dan komentar yang mereka lontarkan, selalu aku cerna dan aku simpulkan.
Tuhan...
Aku tidak ingin
hidup dengan menyusahkan mereka.
Tuhan...
Tolong beri aku
kesembuhan.
Tuhan...
Bagaimana aku
menyimpulkan tentang hidup yang semakin tak berarti.
Kenapa Tuhan
hidup ini penuh dengan kepura-puraan?
Tuhan...
Aku juga tidak
pernah memungkiri kalau hidupku juga penuh dengan dramatisir dan kemunafikan.
Tapi Tuhan aku ini hanya makhluk yang lemah. Aku ini bukan Malaikat atau Nabi
yang mempunyai keistimewaan. Aku ini hanya makhluk yang egois, manja, penuh
dosa, dan sakit-sakitan. Aku ini apa Tuhan...
Aku
selalu mengeluh menghadapi hidup ini. Aku bukanlah makhluk sempurna Tuhan...
Tuhan
apa yang harus kulakukan....
Aku
bingung. Semuanya kacau! Aku bosan setiap hari mengeluh. Aku sudah berusaha
sabar menghadapi cobaan. Tapi aku ini sebatas manusia yang tak punya kekuatan.
Lantas
langkah apa yang harus aku tempuh. Ketika Si Om mengatakan hal itu, sebenarnya
hatiku menjerit. Gerimis menjadi hujan. Pikiranku kacau!
Karena
jarak yang aku tempuh antara sekolah dan rumah memakan jarak sekitar dua belas
kilometer membuat tubuhku cukup goyah.
***
Untukmu sayang,
Kamu pernah
berkata padaku untuk tidak pernah berhenti mengarungi hidup ini. Selebihnya
kamu pernah berkata untuk menggapai cita-cita. Tapi kenapa kamu selesaikan
pendidikanmu di kelas satu? Kenapa motivasimu tidak kamu jadikan prinsip dalam
hidupmu? Kenapa semua jadi tanda tanya ketika aku bertanya padamu tentang
prinsip hidupmu? Aku sadari semua itu.
Meski aku tak
bertanya padamu aku sudah mendapatkan jawaban itu. Pertanyaan yang konyol.
Krom, jika teman-teman menganggapku tak pernah ada, apa kamu juga berperasangka
sama seperti mereka? Atau sebaliknya. Entahlah. Mbuh.
Aku stress!!! Aku
stress memikirkan semua keadaan. Aku juga stress merasakan sakit yang aku derita.
Tuhan....!!! Akrom...!!!
Aku hanya dapat
berteriak melalui coretan-coretan yang tidak berguna. Coretan yang aku tujukan
pada-Mu, Tuhan. Dan untukmu sayang, Moh. Akrom.
To : Moh. Akrom
jar, kepikiran buat cerita dari pa yang kamu rasain seminggu ato hari ini ga ?
BalasHapuscoba wae tah susun sama cerita hari - hari lalu...
aida_clanner
anyyong :p
sseugi haeyo
maksudnya????
Hapus