Kamis, 21 Juni 2012


#Surat Yang Tertunda 3
Kudus, 19 Jun 2012 19:07
From : Putri Marajusa
Untuk kesekian kalinya aku menggores pena di kertas ini untuk kukirim dan berharapa dapat kau baca. Tapi pada kenyataannya surat ini hanya terpajang di sebuah situs blog pribadiku. Aku menyimpan di ruangan maya ini pada suatu ketika kau menjelajah dunia maya, kau menemukan blog pribadiku dan membacanya. Pada saat itulah kau mengetahui gudang surat yang tertunda.
Surat yang akan kukirim padamu tapi saat ini kita tak pernah bertemu. Lantas bagaimana caranya agar surat-surat yang tertunda berada dalam genggamanmu? Aku tak tahu. Bertemu denganmu saja hanya dalam sebuah mimpi yang terkadang tak masuk akal. Aku di sini bersama goresan sederhana, kutumpahkan segala rasa dan asa.
Aku hanya dapat berdoa agar suatu saat nanti bisa bertemu denganmu dalam sebuah ikatan suci. Hari ini kuambil sebuah tinta lalu kuukir diatas kertas membentuk sebuah kalimat sederhana untukmu. Aku tidak tahu bagaimana bertemu denganmu. Aku sangat ingin bertemu denganmu.
Tahukah kamu? Omku pernah berkata padaku untuk berhenti sekolah. Tapi aku tidak ingin berhenti di tengah jalan. Aku ingin terus berjalan ke depan hingga mendapatkan apa yang aku cita-citakan. Namun Tuhan tidak pernah berhenti memeberiku cobaan.
Aku benar-benar bingung. Untuk itu aku goreskan surat ini untukmu, sayang. Agar kamu tahu masalah apa yang tengah aku hadapi sekarang. Dulu sebelum kamu pergi, kamu yang selalu setia menjadi tempat curahan hatiku.
Dan Insya Allah hari liburan esok aku ingin ke rumahmu dengan memberimu sebuah kejutan kecil. Aku benar-benar rindu padamu. Kamu hanya akan menjadi pacar khayalan. Setiap hari aku hanya berkhayal kamu menjadi pacar khayalan.
***
Moh. Akrom, saat ini namamu masih menggenang dalam ingatanku. Kapan ya kita dapat bertemu? Sesungguhnya aku ingin sekali kamu memaafkan aku atas perasaan yang tak jelas ini. Aku ingin mengulang masa-masa dulu. Masa-masa indah di kelas satu.
Harapanku pada surat tertunda yang ketiga ini, segala impian Marajusa dapat terwujud satu persatu. Aku juga ingin menyampaikan hal yang penting padamu. Aku sangat merindukanmu. Lagu dangdut selalu rindu saat kuputar, aku selalu melelehkan airmata. Teringat padamu.
Tuhan...
Tolong beri aku kesempatan untuk bertemu dengannya. Tolong satukan kami dalam sebuah ikatan suci.
Tuhan...
Aku tidak ingin menjalani hidup dengan nasib yang mengenaskan.
Tuhan...
Aku ingin seperti mereka. Layaknya sang Putri raja hidup dengan kebahagiaan.
Tuhan...
Berbagai kritik dan komentar yang mereka lontarkan, selalu aku cerna dan aku simpulkan.
Tuhan...
Aku tidak ingin hidup dengan menyusahkan mereka.
Tuhan...
Tolong beri aku kesembuhan.
Tuhan...
Bagaimana aku menyimpulkan tentang hidup yang semakin tak berarti.
Kenapa Tuhan hidup ini penuh dengan kepura-puraan?
Tuhan...
Aku juga tidak pernah memungkiri kalau hidupku juga penuh dengan dramatisir dan kemunafikan. Tapi Tuhan aku ini hanya makhluk yang lemah. Aku ini bukan Malaikat atau Nabi yang mempunyai keistimewaan. Aku ini hanya makhluk yang egois, manja, penuh dosa, dan sakit-sakitan. Aku ini apa Tuhan...
Aku selalu mengeluh menghadapi hidup ini. Aku bukanlah makhluk sempurna Tuhan...
Tuhan apa yang harus kulakukan....
Aku bingung. Semuanya kacau! Aku bosan setiap hari mengeluh. Aku sudah berusaha sabar menghadapi cobaan. Tapi aku ini sebatas manusia yang tak punya kekuatan.
Lantas langkah apa yang harus aku tempuh. Ketika Si Om mengatakan hal itu, sebenarnya hatiku menjerit. Gerimis menjadi hujan. Pikiranku kacau!
Karena jarak yang aku tempuh antara sekolah dan rumah memakan jarak sekitar dua belas kilometer membuat tubuhku cukup goyah.
***
Untukmu sayang,
Kamu pernah berkata padaku untuk tidak pernah berhenti mengarungi hidup ini. Selebihnya kamu pernah berkata untuk menggapai cita-cita. Tapi kenapa kamu selesaikan pendidikanmu di kelas satu? Kenapa motivasimu tidak kamu jadikan prinsip dalam hidupmu? Kenapa semua jadi tanda tanya ketika aku bertanya padamu tentang prinsip hidupmu? Aku sadari semua itu.
Meski aku tak bertanya padamu aku sudah mendapatkan jawaban itu. Pertanyaan yang konyol. Krom, jika teman-teman menganggapku tak pernah ada, apa kamu juga berperasangka sama seperti mereka? Atau sebaliknya. Entahlah. Mbuh.
Aku stress!!! Aku stress memikirkan semua keadaan. Aku juga stress merasakan sakit yang aku derita. Tuhan....!!! Akrom...!!!
Aku hanya dapat berteriak melalui coretan-coretan yang tidak berguna. Coretan yang aku tujukan pada-Mu, Tuhan. Dan untukmu sayang, Moh. Akrom.
To : Moh. Akrom

2 komentar:

  1. jar, kepikiran buat cerita dari pa yang kamu rasain seminggu ato hari ini ga ?
    coba wae tah susun sama cerita hari - hari lalu...

    aida_clanner

    anyyong :p
    sseugi haeyo

    BalasHapus