Senin, 18 Juni 2012

Kisah Sejati : Bayangan Cinta


Bayangan Cinta
Kudus, 2008/2009
Kisah sejati,
Akhirnya isro’ mi’roj yang kami tunggu selama ini diselenggarakan di halaman sekolah. Gema takbir dan sholawat masuk ke dalam gendang telinga menyejukkan hati. Mimbar di atas panggung dipenuhi anak mengetuk rebana dengan irama yang menyejukkan jiwa. Berpuluh-puluh pelajar SMP duduk mendengarkan panggilan jiwa itu. Bayangan cinta yang dilukiskan melalui pujian-pujian yang Agung itu mengiang di telinga orang-orang yang beriman.
Aku menuliskan sebuah nomer handphone disebuah kertas berukuran kecil. Kulempar kertas itu ke temanku yang duduk bersila di barisan paling depan.
Lho, kok di tangan cowok misterius itu,” kataku sambil memandang ke arah cowok yang memegang kertas berisi nomer handphoneku.
“Mbak, cowok yang di depan namanya siapa?” tanyaku pada seorang perempuan yang berada di samping kananku.
“O, namanya Tomo (maaf nama asli dirahasiakan),” jawab perempuan di sampingku.
Acara pun selesai, di pagi hari yang cerah aku berangkat sekolah bersama saudaraku. Begitu aku mengingat lelaki bernama Tomo. Lelaki berparas tampan, manis, membuat hatiku tersipu. Demikianlah lelaki yang masuk dalam daftar kriteriaku. Ku tersenyum bila melihat ia mengembangkan senyum padaku.
Membuat diriku menjadi salah tingkah bila berada di dekatnya. Parasnya layaknya aktris Ibukota Jakarta, Steven William membuatku tak dapat mengucapkan sepatah kata. Mata, hidung, sifat, bibir, dan bicaranya tak pernah bisa luput dari benakku. Jika setiap kali ia menggoda gadis lain, diri ini hanya dapat membisu.
Suara lonceng sekolah mengagetkan diriku disaat terbayang akan paras manisnya itu. Selintas di benakku, aku berlari menuju ke depan pintu kelas wike. Wike adalah orang yang judes sekali. Ia kakak kelasku, sekaligus sahabat. Setelah aku bertanya seputar Tomo, lalu aku diberikan nomer handphonnya oleh Wike.
“Mbak Wike, ada sesuatu hal yang ingin aku katakan,” ucapku.
“Apa?” tanyanya heran.
“Sebenarnya aku mencintai Tomo, cowokmu,” ujarku sambil mengenggam kedua telapak tangan yang dingin ini. Urat nadiku mengalir begitu membeku ketika melihat raut Wike yang seakan ingin memukul wajahku.
Hari Sabtu kala aerobik serta lomba yang diadakan di halaman sekolah, aku beserta temanku yang lain yaitu Inok, dan Ita tidak ikut. Kami hanya memunguti sampah yang tersebar di halaman sekolah. Usai aerobik diriku membasahi tenggorakan yang kering disebuah kantin sekolah. Kaki melangkah keluar di depan pintu kantin,
“Woi Risma...! Ke sini, ikut aku!” teriak Tomo sambil melambaikan tangan ke arahku. Kulihat Cs Tomo, hanya berdiam diri. Kubuang sekantong plastik es sambil berlari menemui Tomo di sebuah lorong sekolah dekat kelas 8E.
“Risma, kamu beneran cinta aku? Tapi apa yang kamu sukai dari aku?” tanya Tomo heran.
 “Ya Tom, aku beneran cinta kamu. Karna kamu orangnya baik dan humoris,” jawabku sambil mengusap keningku yang mengalir air dingin.
“Jika benar, kamu mau nggak jadi pacarku?” ujar Tomo yang masih berdiri di depanku.
Sontak ucapan Tomo menggetarkan denyut nadiku. Hatiku menjadi bimbang tak menentu. Angin dingin serempak menerpa leherku. Ya Allah, apakah ini cuma mimpi? Jerit batinku. Sejenak suasana menjadi hening seketika itu aku menjawab dengan perasaan gelisah.
“Tapi, gimana dengan Wike? Kasihan dia, karena dia adalah sahabatku. Aku juga udah nganggep dia seperti kakakku sendiri,” kataku. Aku tak tahu bagaimana bentuk wajahku ketika aku mengatakan hal itu.
“Atau gini aja, mending kita backstreet. Tapi Ris, Aku juga nggak bisa mutusin wike. Apa kamu mau aku duain?” ujar tomo dengan kening yang mengerut, matanya menciut seakan tak terlihat oleh mata.
Aku membisu. Ah, mending aku sama tomo nggak usah jadian selamanya daripada diduain kayak gini. Enak aja! bisik hati kecilku.
“Ya sudah mending kita bersahabat saja. Kita nggak ditakdirkan untuk bersama. Mendingan kamu baik-baik sama Wike, aku doakan hubungan kalian langgeng!” Ucapku dengan hati yang gelisah. Tomo hanya terdiam membisu setelah aku memberi kaputusan yang tak pasti.
Lantas aku berlari menuju kelas meninggalkannya bersama Csnya sambil meneteskan airmata. Aku yang ingin membasahi tenggorokkan dengan seteguk air dingin, menuju kantin. Belum sampai depan pintu kantin, sosok seorang lelaki yang tidak ku kenal telah mengancamku.
“Heh Ris, kamu nggak usah ngejar-ngejar Tomo! dia udah punya Wike. Kasihan Wike! Awas !” ancam lelaki misterius itu.
 Diriku berlari ketakutan menuju kelas. Di bangku yang kosong ku melelehkan airmata tiada henti. Semua perasaan yang kelabu aku tuangkan ke dalam butiran-butiran airmata. Tet..Tet..Tet bel bernyanyi tiga kali, seluruh siswa SMP pulang.
Kala kaki melangkah menuju parkir, aku dihadang oleh Wike CS. Aku diajak mereka ke suatu tempat, ternyata di depan kamar mandi sekolah, belakang kelas 7E.
“Heh cewek nggak tahu diri! Cepet ngaku! Loe ada hubungan apa sama Tomo?!” tanya Wike ketus sambil mendorong tubuhku terjatuh di dinding belakang kelas 7E.
“A...aku..aku sama Tomo nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Sumpah Mbak aku nggak ada hubungan sama dia,” jawabku terbata.
“Tapi loe cinta sama dia ‘kan? Udah deh loe nggak usah munafik!”
“Sudah ya Mbak aku mau pulang dulu,” aku mencoba mengelak. Aku tak perlu mengatakannya sebab seorang perempuan aku harus menjaga perasaan Wike.
“Udah deh loe nggak usah menyangkal! Gue tahu loe cinta sama dia! Gue punya buktinya, dasar cewek penyakitan!”
“Baik aku jujur sama kamu, aku memang cinta sama Tomo,” airmataku terus mengalir. Tubuh mulai bergetar, air dingin yang terus mengalir di pelipis mengalir semakin deras, jari jemari mulai ku genggam dengan erat. Pandanganku mulai remang-remang. Ada bintang-bintang di atas kepalaku. Dan gelap semakin gelap...
Setengah sadar telingaku menangkap bunyi air menerpa wajahku. Byur..!!! Aku terbangun, dan basah. Kulihat Wike memegang gayung hijau.
Ternyata Wike telah menyiramku, Astaghfirullahaladzim,” jerit hati kecilku.
“Sudah deh loe nggak usah nangis di depan gue! Ntar dikira teman yang lainnya ada apa-apa!” kata Wike sambil menggandeng tangan kananku. Kami berjalan menuju parkir menusuri kelas-kelas.
Temanku Ita menabrak Wike. Aku tak tahu itu sengaja atau tidak. Lantas, Wike melepaskan genggaman tanganya dari tanganku. Wike lalu berlari menemui kekasihnya, Tomo. Kulihat Wike dipeluk mesra oleh Tomo, perasaan ini mulai bagaikan dibawa angin tak tentu arah. Mereka membicarakan sesuatu, aku tak tahu itu apa sebab aku hanya berdiam diri.
“Sudah lah Ris, yang sabar saja. Semoga Allah memudahkan ini semua,” kata Ita sambil menepuk pundakku.
Tiba-tiba Wike melepaskan pelukan dari Tomo. Entah ada apa lagi dengan Wike. Ia merebut handphone dari genggaman tangan Tomo kemudian ia banting. Aku menyaksikan mereka bertengkar, merasa bersalah hingga melelehkan airmata hingga menjadi samudra airmata, tetapi Ita berusaha menenangkan hatiku.
Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226)
Akhirnya UN 2008/2009 usai dengan seiring berjalanya waktu. Apa aku sanggup melepas kepergian tomo jika nantinya tak akan pernah bertemu dengannya lagi? Ternyata semenjak pengumuman kelulusan tiba, semua menjadi kenyataan. Detik-detik menginjak kelas lx aku memberikan sepucuk surat sebagai tanda kenangan terakhir.
Aku menitipkannya kepada salah satu teman Tomo. Betapa ku tak sabar memberi ia kenangan, secepat mungkin aku bergegas meninggalkan rumah. Ku menuju sebuah rumah. Sesampainya tak lupa mengucapkan salam terlebih dahulu.
Setelah pintu dibuka kita mengobrol sejenak. Suasana disitu menjadi sangat menyenangkan. Kita bercanda sejenak. Betapa senang hatikuitulah kalimat yang aku ucapkan sewaktu usai dari rumah teman Tomo.
Sampai di rumah ku menuju sebuah ruangan kecil. Disitu kepala ku sandarkan di sebuah bantal dengan membayangkan diriku bersamanya. Isi surat itu terdapat sebuah puisi yang aku abadiakan disebuah dinding kamarku.
Cinta Mati
Cintaku hanyalah untukmu seorang
Aku mencintai setulus hati
Demi langit dan bumi
Kurelakan engkau pergi dari pelukku
Tetapi cintamu dan cintaku
Takkan pernah pergi dari hatiku selamanya
Meskipun engkau pergi dari pelukku
Tetapi namamu ku akan
Ku ukir dalam hatiku selamanya
Demikianlah puisi yang tertulis diatas dikertas putih yang aku berikan kepadanya. Dalam hatiku bertanya,
Mengapa cinta kita tak bisa bersatu saat ku yakin tak ada cinta
selain dirinya.... Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi hanya
untuk bersamanya karna  ku mencintainya....
Rasa ini sungguh tak wajar namun ku ingin tetap bersama
Dia untuk selamanya...
Terdengar panggilan jiwa untuk menghadap Sang Khaliq. Usai shalat ku panjatkan doa kepada sang kuasa. Jam dinding mulai menunjukkan pukul 21.00 WIB.
Mata mulai lelah, badan mulai letih, mulut mulai menguap, ku panjatkan sebuah doa untuk menemani diri ini ke alam mimpi. Di tengah dinginnya malam, di tengah sunyinya pedesaan. Sepintas, ada bayangan aneh menghantui tidur lelapku, bertemu Tomo. Segerombolan orang datang memisahkan kami. Hingga kita berpisah. Kring...kring...kring...bunyi yang tak asing bagiku membangunkan tidur dari bayangan aneh itu, seolah-olah bunyi itu kudengar setiap pagi.
Setitik cahaya dari arah timur mulai bersinar. Aku berfikir sejenak “apakah mimpi semalam merupakan sebuah petunjuk? Apa benar tomo bukan jodohku? Tapi kenapa mimpi itu bisa terjadi.”
Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu saudaranya yang muslim, lalu ia memegang tangannya (berjabat tangan) gugurlah dosa keduanya sebagaimana gugurnya daun dan pohon kering jika ditiup angin kencang. Sungguh diampuni dosa mereka berdua, meski sebanyak buih dilaut.” (H.R. Tabrani)
Kemudian aku bergegas ke sekolah dengan rasa gundah menghantui jiwa. Hari itu adalah hari pertama duduk di kelas lx. Di kelasku yang baru, aku bercerita mengenai mimpi semalam. Ita mencoba meyakinkanku dengan mimpi itu bahwa aku dan Tomo tak dapat bersatu untuk selamanya.
Begitu banyak peluang yang Allah berikan, yang Rasulullah tunjukan, untuk menjadi mulia dengan cinta. Bukan menjadi terhina dan terpuruk, karenanya. Aku pun menuju teras sekolah. Memandangi halaman sekolah yang begitu nyata adanya. Bayangan-bayangan tentang saat pertama kali aku mengenal dia.
Kau membuat ku tak berdaya,
Kau membuat ku  tak karuan
Kau menolakku acuhkan diriku
Bagaimana caranya untuk meruntuhkan kerasnya hatimu
.......................
Lagu yang mengiang di telingaku dari speaker sekolah, membuatku ingat akan bayangan itu. Speaker yang mulanya ketika dia masih ada dan ketika isro’ mi’roj tiba speaker itu dihiasi oleh lantunan-lantunan pujian kepada Tuhan dan Nabi Muhammad SAW, tetapi kini di hari-hari biasa yang kulalui tanpa adanya dia serta isro’ mi’roj yang menjadi saksi pertemuan diantara kita, kini hanya menjadi bayangan semata.
Dan dalam impian nyataku, suatu saat nanti semoga Allah menyatukan kita dalam ikatan cinta karena-Nya. Menjadi sebuah keluarga yang di ridhoi Allah SWT. Aku tak tahu, apakah aku dan dia berjodoh atau tidak? Entah lah. Wallahu’alam.
Aku juga menyadari ternyata cintaku padanya tidak mendapatkan apa-apa, namun cintaku pada Allah lah yang menjadi kekal abadi selamanya dan tidak menjadi sebuah bayangan cinta. Hanya karena cinta pada sesama manusia, membawa dosa dan keterpurukan. Di sini lah aku menyadari tentang arti cinta yang sesungguhnya. Cinta kepada Allah akan membawa kita ke dalam Surga-Nya. Surga di mana orang-orang yang mencintai dan di cintai karena-Nya menjalin sebuah cinta yang sesungguhnya.***
Kudus, 22/02/2012
(9 Mulud 1433)
NB : pernah di muat di
Forum Lingkar Pena Kudus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar