Bayangan
Cinta
Kudus,
2008/2009
Kisah
sejati,
Akhirnya isro’ mi’roj yang kami
tunggu selama ini diselenggarakan di halaman sekolah. Gema takbir dan sholawat
masuk ke dalam gendang telinga menyejukkan hati. Mimbar di atas panggung
dipenuhi anak mengetuk rebana dengan irama yang menyejukkan jiwa.
Berpuluh-puluh pelajar SMP duduk mendengarkan panggilan jiwa itu. Bayangan
cinta yang dilukiskan melalui pujian-pujian yang Agung itu mengiang di telinga
orang-orang yang beriman.
Aku menuliskan sebuah nomer handphone
disebuah kertas berukuran kecil. Kulempar kertas itu ke temanku yang duduk
bersila di barisan paling depan.
“Lho, kok di tangan cowok
misterius itu,” kataku sambil memandang ke arah cowok yang memegang kertas
berisi nomer handphoneku.
“Mbak, cowok yang di depan namanya
siapa?” tanyaku pada seorang perempuan yang berada di samping kananku.
“O, namanya Tomo (maaf nama asli
dirahasiakan),” jawab perempuan di sampingku.
Acara pun selesai, di pagi hari yang
cerah aku berangkat sekolah bersama saudaraku. Begitu aku mengingat lelaki
bernama Tomo. Lelaki berparas tampan, manis, membuat hatiku tersipu.
Demikianlah lelaki yang masuk dalam daftar kriteriaku.
Ku tersenyum bila melihat ia mengembangkan senyum padaku.
Membuat diriku menjadi salah tingkah
bila berada di dekatnya. Parasnya layaknya aktris
Ibukota Jakarta, Steven William membuatku
tak dapat mengucapkan sepatah kata. Mata, hidung, sifat, bibir, dan bicaranya
tak pernah bisa luput dari benakku. Jika setiap kali ia menggoda gadis lain,
diri ini hanya dapat membisu.
Suara lonceng sekolah mengagetkan diriku
disaat terbayang akan paras manisnya itu. Selintas di benakku, aku berlari
menuju ke depan pintu kelas wike. Wike adalah orang yang judes sekali. Ia kakak
kelasku, sekaligus sahabat. Setelah aku bertanya seputar Tomo, lalu aku
diberikan nomer handphonnya oleh Wike.
“Mbak Wike, ada sesuatu hal yang ingin
aku katakan,” ucapku.
“Apa?” tanyanya heran.
“Sebenarnya aku mencintai Tomo,
cowokmu,” ujarku sambil mengenggam kedua telapak tangan yang dingin ini. Urat nadiku
mengalir begitu membeku ketika melihat raut Wike yang seakan ingin memukul
wajahku.
Hari Sabtu kala aerobik serta
lomba yang diadakan di halaman sekolah, aku beserta temanku yang lain yaitu Inok,
dan Ita tidak ikut. Kami hanya memunguti sampah yang tersebar di halaman
sekolah. Usai aerobik diriku membasahi tenggorakan yang kering disebuah kantin
sekolah. Kaki melangkah keluar di depan pintu kantin,
“Woi Risma...! Ke sini, ikut aku!”
teriak Tomo sambil melambaikan tangan ke arahku. Kulihat Cs Tomo, hanya berdiam
diri. Kubuang sekantong plastik es sambil berlari menemui Tomo di sebuah lorong
sekolah dekat kelas 8E.
“Risma, kamu beneran cinta aku? Tapi apa
yang kamu sukai dari aku?” tanya Tomo heran.
“Ya
Tom, aku beneran cinta kamu. Karna kamu orangnya baik dan humoris,” jawabku
sambil mengusap keningku yang mengalir air dingin.
“Jika benar, kamu mau nggak jadi
pacarku?” ujar Tomo yang masih berdiri di depanku.
Sontak ucapan Tomo menggetarkan denyut
nadiku. Hatiku menjadi bimbang tak menentu. Angin dingin serempak menerpa
leherku. Ya Allah, apakah ini cuma mimpi?
Jerit batinku. Sejenak
suasana menjadi hening seketika itu aku menjawab dengan perasaan gelisah.
“Tapi, gimana dengan Wike? Kasihan dia,
karena dia adalah sahabatku. Aku juga udah nganggep dia seperti kakakku
sendiri,” kataku. Aku tak tahu bagaimana bentuk wajahku ketika aku mengatakan
hal itu.
“Atau gini aja, mending kita backstreet. Tapi Ris, Aku juga nggak
bisa mutusin wike. Apa kamu mau aku duain?” ujar tomo dengan kening yang
mengerut, matanya menciut seakan tak terlihat oleh mata.
Aku membisu. Ah, mending aku sama tomo nggak usah jadian selamanya daripada diduain
kayak gini. Enak aja! bisik hati kecilku.
“Ya sudah mending kita bersahabat saja.
Kita nggak ditakdirkan untuk bersama. Mendingan kamu baik-baik sama Wike, aku
doakan hubungan kalian langgeng!” Ucapku dengan hati yang gelisah. Tomo hanya
terdiam membisu setelah aku memberi kaputusan yang tak pasti.
Lantas aku berlari menuju kelas
meninggalkannya bersama Csnya sambil meneteskan airmata. Aku yang ingin
membasahi tenggorokkan dengan seteguk air dingin, menuju kantin. Belum sampai depan
pintu kantin, sosok seorang lelaki yang tidak ku kenal telah mengancamku.
“Heh Ris, kamu nggak usah ngejar-ngejar
Tomo! dia udah punya Wike. Kasihan Wike! Awas !” ancam lelaki misterius itu.
Diriku berlari ketakutan menuju kelas. Di
bangku yang kosong ku melelehkan airmata tiada henti. Semua perasaan yang kelabu
aku tuangkan ke dalam butiran-butiran airmata. Tet..Tet..Tet bel bernyanyi tiga
kali, seluruh siswa SMP pulang.
Kala kaki melangkah menuju parkir, aku
dihadang oleh Wike CS. Aku diajak mereka ke suatu tempat, ternyata di depan kamar
mandi sekolah, belakang kelas 7E.
“Heh cewek nggak tahu diri! Cepet ngaku!
Loe ada hubungan apa sama Tomo?!” tanya Wike ketus sambil mendorong tubuhku
terjatuh di dinding belakang kelas 7E.
“A...aku..aku sama Tomo nggak ada
hubungan apa-apa sama dia. Sumpah Mbak aku nggak ada hubungan sama dia,”
jawabku terbata.
“Tapi loe cinta sama dia ‘kan? Udah deh
loe nggak usah munafik!”
“Sudah ya Mbak aku mau pulang dulu,” aku
mencoba mengelak. Aku tak perlu mengatakannya sebab seorang perempuan aku harus
menjaga perasaan Wike.
“Udah deh loe nggak usah menyangkal! Gue
tahu loe cinta sama dia! Gue punya buktinya, dasar cewek penyakitan!”
“Baik aku jujur sama kamu, aku memang
cinta sama Tomo,” airmataku terus mengalir. Tubuh mulai bergetar, air dingin
yang terus mengalir di pelipis mengalir semakin deras, jari jemari mulai ku
genggam dengan erat. Pandanganku mulai remang-remang. Ada bintang-bintang di
atas kepalaku. Dan gelap semakin gelap...
Setengah sadar telingaku menangkap bunyi
air menerpa wajahku. Byur..!!! Aku terbangun, dan basah. Kulihat Wike memegang
gayung hijau.
“Ternyata Wike telah menyiramku,
Astaghfirullahaladzim,” jerit hati kecilku.
“Sudah deh loe nggak usah nangis di
depan gue! Ntar dikira teman yang lainnya ada apa-apa!” kata Wike sambil
menggandeng tangan kananku. Kami berjalan menuju parkir menusuri kelas-kelas.
Temanku Ita menabrak Wike. Aku tak tahu
itu sengaja atau tidak. Lantas, Wike melepaskan genggaman tanganya dari
tanganku. Wike lalu berlari menemui kekasihnya, Tomo. Kulihat Wike dipeluk
mesra oleh Tomo, perasaan ini mulai bagaikan dibawa angin tak tentu arah.
Mereka membicarakan sesuatu, aku tak tahu itu apa sebab aku hanya berdiam diri.
“Sudah lah Ris, yang sabar saja. Semoga Allah
memudahkan ini semua,” kata Ita sambil menepuk pundakku.
Tiba-tiba Wike melepaskan pelukan dari Tomo.
Entah ada apa lagi dengan Wike. Ia merebut handphone dari genggaman
tangan Tomo kemudian ia banting. Aku menyaksikan mereka bertengkar, merasa bersalah
hingga melelehkan airmata hingga menjadi samudra airmata, tetapi Ita berusaha menenangkan
hatiku.
“Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari
kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh
wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari
Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam
Ash-Shahihah no. 226)
Akhirnya UN 2008/2009 usai dengan
seiring berjalanya waktu. Apa aku sanggup melepas kepergian tomo jika nantinya tak
akan pernah bertemu dengannya lagi? Ternyata semenjak pengumuman kelulusan
tiba, semua menjadi kenyataan. Detik-detik menginjak kelas lx aku memberikan sepucuk
surat sebagai tanda kenangan terakhir.
Aku menitipkannya kepada salah satu
teman Tomo. Betapa ku tak sabar memberi ia kenangan, secepat mungkin aku
bergegas meninggalkan rumah. Ku menuju sebuah rumah. Sesampainya tak lupa mengucapkan
salam terlebih dahulu.
Setelah pintu dibuka kita mengobrol
sejenak. Suasana disitu menjadi sangat menyenangkan. Kita bercanda sejenak. “Betapa
senang hatiku” itulah kalimat
yang aku ucapkan sewaktu usai dari rumah teman Tomo.
Sampai di rumah ku menuju sebuah ruangan
kecil. Disitu kepala ku sandarkan di sebuah bantal dengan membayangkan diriku
bersamanya. Isi surat itu terdapat sebuah puisi yang aku abadiakan disebuah
dinding kamarku.
Cinta
Mati
Cintaku
hanyalah untukmu seorang
Aku
mencintai setulus hati
Demi
langit dan bumi
Kurelakan
engkau pergi dari pelukku
Tetapi
cintamu dan cintaku
Takkan
pernah pergi dari hatiku selamanya
Meskipun
engkau pergi dari pelukku
Tetapi
namamu ku akan
Ku ukir
dalam hatiku selamanya
Demikianlah puisi yang tertulis diatas
dikertas putih yang aku berikan kepadanya. Dalam hatiku bertanya,
Mengapa
cinta kita tak bisa bersatu saat ku yakin tak ada cinta
selain
dirinya.... Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi hanya
untuk
bersamanya karna ku mencintainya....
Rasa ini
sungguh tak wajar namun ku ingin tetap bersama
Dia untuk
selamanya...
Terdengar panggilan jiwa untuk menghadap
Sang Khaliq. Usai shalat ku panjatkan doa kepada sang kuasa. Jam dinding mulai
menunjukkan pukul 21.00 WIB.
Mata mulai lelah, badan mulai letih,
mulut mulai menguap, ku panjatkan sebuah doa untuk menemani diri ini ke alam
mimpi. Di tengah dinginnya malam, di tengah sunyinya pedesaan. Sepintas, ada
bayangan aneh menghantui tidur lelapku, bertemu Tomo. Segerombolan orang datang
memisahkan kami. Hingga kita berpisah. Kring...kring...kring...bunyi yang tak asing bagiku membangunkan tidur
dari bayangan aneh itu, seolah-olah bunyi itu kudengar setiap pagi.
Setitik cahaya dari arah timur mulai
bersinar. Aku berfikir sejenak “apakah
mimpi semalam merupakan sebuah petunjuk? Apa benar tomo bukan jodohku? Tapi
kenapa mimpi itu bisa terjadi.”
“Sesungguhnya
seorang muslim apabila bertemu saudaranya yang muslim, lalu ia memegang
tangannya (berjabat tangan) gugurlah dosa keduanya sebagaimana gugurnya daun
dan pohon kering jika ditiup angin kencang. Sungguh diampuni dosa mereka
berdua, meski sebanyak buih dilaut.” (H.R. Tabrani)
Kemudian aku bergegas ke sekolah dengan
rasa gundah menghantui jiwa. Hari itu adalah hari pertama duduk di kelas lx. Di
kelasku yang baru, aku bercerita mengenai mimpi semalam. Ita mencoba meyakinkanku
dengan mimpi itu bahwa aku dan Tomo tak dapat bersatu untuk selamanya.
Begitu
banyak peluang yang Allah berikan, yang Rasulullah tunjukan, untuk menjadi
mulia dengan cinta. Bukan menjadi terhina dan terpuruk, karenanya. Aku pun
menuju teras sekolah. Memandangi halaman sekolah yang begitu nyata adanya.
Bayangan-bayangan tentang saat pertama kali aku mengenal dia.
Kau
membuat ku tak berdaya,
Kau
membuat ku tak karuan
Kau
menolakku acuhkan diriku
Bagaimana
caranya untuk meruntuhkan kerasnya hatimu
.......................
Lagu
yang mengiang di telingaku dari speaker sekolah, membuatku ingat akan
bayangan itu. Speaker yang mulanya ketika dia masih ada dan ketika isro’
mi’roj tiba speaker itu dihiasi oleh lantunan-lantunan pujian kepada
Tuhan dan Nabi Muhammad SAW, tetapi kini di hari-hari biasa yang kulalui tanpa
adanya dia serta isro’ mi’roj yang menjadi saksi pertemuan diantara
kita, kini hanya menjadi bayangan semata.
Dan
dalam impian nyataku, suatu saat nanti semoga Allah menyatukan kita dalam
ikatan cinta karena-Nya. Menjadi sebuah keluarga yang di ridhoi Allah SWT. Aku
tak tahu, apakah aku dan dia berjodoh atau tidak? Entah lah. Wallahu’alam.
Aku juga menyadari ternyata cintaku
padanya tidak mendapatkan apa-apa, namun cintaku pada Allah lah yang menjadi
kekal abadi selamanya dan tidak menjadi sebuah bayangan cinta. Hanya karena
cinta pada sesama manusia, membawa dosa dan keterpurukan. Di sini lah aku
menyadari tentang arti cinta yang sesungguhnya. Cinta kepada Allah akan membawa
kita ke dalam Surga-Nya. Surga di mana orang-orang yang mencintai dan di cintai
karena-Nya menjalin sebuah cinta yang sesungguhnya.***
Kudus, 22/02/2012
(9 Mulud 1433)
NB : pernah di muat di
Forum Lingkar Pena Kudus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar