Senin, 18 Juni 2012

Kisah sejati


Duri Dalam Nestapa
Kudus, 2010
Berjalan ditengah bebatuan berliku. Penuh debu dibawah panas terik matahari. Rasa haus di tenggorokan menyurutkan semangat menuju Air Tiga Rasa terletak di Puncak Muria. Rasa lelah menyelimuti badan hingga jantung berdetak kencang.
Namun tetap bersemangat karena canda tawa dari teman-teman membuat diriku mampu hingga disana. Aku menuju Montel dan Air tiga rasa bersama 13 orang. Diantaranya ; mas adi, wawan, ali, faris, dita, toni, sofi, atiq, ro’is, yulia, mas ari, tri, dan irwan. Memakai tas dan jaket membuat tubuh semakin letih.
Tangga demi tangga kami lalui dengan nafas terengah. Hingga akhirnya mengambil botol minuman kosong dari dalam tas. Mengambil air tiga rasa dengan sebuah cangkir. Nampak, ku lihat dita bersama faris bergandengan tangan ketika menuju Air Tiga Rasa.
Membuat api cemburu dalam hati meluap. Namun, aku hilangkan perasaan itu. Karena aku dan faris telah menjadi mantan kekasih.
“mas faris, mendingan kamu balikkan meneh ambi mbak dita.” Ujarku dengan perasaan campur aduk.
“nggak, tak anggep temen semua !” jawab faris.
Sebelum mengisi air tersebut ke dalam botol, ku sempatkan meminum seteguk dari salah satu air tersebut. Menghilangkan rasa haus berlebihan. Beristirahat menghilangkan rasa lelah. Di tempat tersebut, kami mengabadikan beberapa foto narsis.
Beberapa waktu kemudian, melangkahkan kaki menuju rumah. Langkah demi langkah kita lalui bersama. Wawan, sudah ku anggap kakak sendiri. Dengan rela menemani kala diriku kelelahan.
Dalam perjalanan pulang, melewati jalan berliku. Toni, salah satu temanku karena mengantuk serta lelah. Tak sengaja tergelincir di tepi jurang, Colo.
“Toni. . . .! ton. . .! YaAllah Toni. . .!” sontak hatiku, berteriak memanggil nama toni. Aku sangatlah hawatir dengan keadaannya.
Karena kala itu aku menyaksikan kejadian tersebut. Disaat itu pula aku bersandar di bahu wawan. Dengan segera ku turun dari kendaraan beroda dua. Orang sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut bergegas menuju tempat kejadian.
Aku hanya dapat menyaksikan dan terdiam. Tak dapat berbuat untuk menolongnya. Kendaraan miliknya rusak parah. Alhamdulillah toni selamat dari  kecelakaan tersebut.
Demi menjaga keselamatan untuk ke dua kalinya, pengendara sepeda motor digantikan oleh tri. Tri adalah kekasih dita. Tri sosok lelaki pendiam. Sesampai di kediaman mas adi kita beristirahat, memakan sepiring mie yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Karena Faris adalah seorang pemain PERSIKU, meninggalkan rumah mas adi. Farispun tak lupa berpamitan denganku. Ku melirik toni duduk di atas kursi sendiri. Tanpa pikir panjang ku ambilkan sepiring mie untuknya.
“Ton, tadi kamu nggak apa ? iki tak ambilkan makan. Di maem yo...”  tanya ku sambil menyodorkan sepiring mie.
“Yo nggak apa rin...? halah, nggak usah ! males.” Jawabnya dingin. Terpaksa ku meninggalkan toni sendiri. Sebelum aku, wawan, dan lainnya pulang ke rumah, kita berpamitan dengan Tuan rumah, mas Adi.
Hufth, sesampai di rumah beristirahat di tempat tidur hingga esok tiba. Terasa kaki patah, berjalan mengitari air terjun Montel hingga Puncak Muria. Menjelang adzan maghrib aku beserta kaluarga menuju mushola. Tanggal 1 Agusutus 2011 adalah puasa pertama.
Tak terasa baru duduk di bangku kelas XI, lebaran sudah mendekati. Puasa hari pertama udara di pedesaan bagaikan api menyambar langit biru. Join on the facebooke, update status menghilangkan rasa jenuh di hari pertama puasa. Ketika online, melihat foto profil yang familiar.
Dengan hati senang gemerlap,  Akun FB  milik seseorang itu I’m add As friend. Tak lama kemudian Akun FB milikku di konfirmasi. Setiap status yang ia tulis, aku comment. Ia pun membalas comment  dariku.
“eh Alfa, kemaren toni jatuh ke jurang.” Begitu komentarku. Setelah kita saling komentar satu dengan lain.
“eh alfa, kamu tau nggak ? waktu di Montel tuh si dita bermesraan mbi faris ! apalagi hubunganku dengan faris hancur tuh karna dita !” dengan hati sakit tanpa pikir panjang, ucapan itu keluar dari mulut. Tapi tak ada respon dari Alfa.
Tiba-tiba ku mendapatkan sebuah pesan online  dari Dita, membuat diri tersontak.
“eh rin, kowe gak usah ngono ! maksutmu opo ngomong ke alfa ngunu !! aku yo gak pernah bahas kowe meneh , tapi ngene opo kowe  sing marai disik. Kowe ngaran-ngarani aku..” pesan dari Dita.
“maksutnya ? aku nggak bermaksut gitu mbak..., orang waktu itu aku lihat Tri kelihatan kayak cemburu waktu kamu sama faris. Aku ajak bicara juga dia nggak mau jawab kan ?” Jawabku.
“trus maksutmu opo meneh, kenopo kowe ngomong ning konco-konconem nek aku sing ngrusak hubunganem ambi faris. Aku sms  faris, faris ngomong ora. Sumpah rin aku gak ngapusi.”
“iya maaf mbak kalau aku udah bicara sembarangan. Heh SUMPAH DEMI ALLAH RASULALLAH !!! faris juga bilang iya waktu aku tanya soal kamu ngancurin hubungan aku !! dan temanmu juga bilang gitu.” Jawabku dengan penuh emosi.
“Faris podo wae ngomong SUMPAH DEMI ALLAH, aku gak ngapusi rin. Yo wes, ngene wae,  aku, kowe, faris ketemu cah telu. Ben  masalah iki cepet bar. Pie rin ? wani opo ora ? oh yo, kowe ngemis-ngemis njaluk maaf karo. Aku ora bakalan maafno kowe !  anggep wae kowe ora kenal karo aku selawase !” balasan pesan terakhir Dita.
Selang dua hari pertikaian itu terjadi, aku, dita, faris bertemu di sebuah tempat. Di sebuah keramaian kota dekat sekolah. Pandangan mata yang menatap wajahku membuat hati semakin teriris. Raut wajah kesal menghiasi wajah dita membuat pandangan mata berkaca.
“eh mas faris, maksutmu opo ? wektu iku aku tanya sama kamu soal mbak dita ngrusak hubungan kita! Tapi, kenopo kamu membalikkan fakta ? kamu jadi orang jahate poul !” tanyaku padanya dengan linangan air mata. Faris yang berdiri dihadapanku hanya terdiam dengan tatapan penuh penyesalan.
“eh rin, aku nggak pernah ngrusak hubunganem ambi faris ! emange sopo sing ngomong nek aku ngrusak hubunganem !” ucap dita dengan emosi tak menentu.
“kamu pengen tahu sopo yang bilang gitu ? temenmu sendiri yang bilang... Kamu kenopo tho mbak syirik sama aku..? aku nggak pengen punya masalah. Bentar lagi lebaran, tapi kenopo sifatmu nggak berubah ?” ujarku menangis histeris.
“udah rin, ojo nangis. Malu dilihat orang lain.” Faris mencoba menenangkan diriku.
“halah nggak usah sok peduli, kamu jadi orang nggak konsisten ! aku nggak mau ngebahas masalah ini lagi ! pokoknya tak anggep masalah ini clear !” ucapku dengan tetesan air mata membasahi pipi. Dengan hati terluka, dengan cepat meninggalkan mereka berdua. Ku hidupkan mesin sepeda motor. Dengan hati menggebu disepanjang perjalanan tak dapat mengahapus air mata.
Setiap tikungan sepanjang perjalanan semakin ku tambah laju kecepatan. Dengan pikiran kacau, sesampai di jalan menuju desa tempat tinggalku, menabrak segrombolan kambing. Si pengembala kambing memarahiku karena tak berhati-hati. Aku tak memperdulikan nasehatnya.
Sesampai di rumah berlari menuju kamar tidur. Menangis dengan wajah ku tutup dengan bantal. Rasa sakit itu kembali mencekam. Wajah menjadi putih pucat, nafas tak teratur, jantung berdegup semakin kencang.
Membuat semakin bersedih. Mengingat orang-orang yang selalu ada buatku, membuat semakin pasrah. Terlalu cepat bila harus kembali kepada-Nya. Meninggalkan orang-orang yang aku sayang.
YaAllah,  jika ini memang takdirku aku rela. Mengapa semua ini harus terjadi padaku ? seburuk itukah diriku?
Wajah menatap sang bintang. Angin malam datang membuat tubuh mendekap seuntai kain tebal. Rembulan datang menyinari wajah. Menatap langit biru yang gelap membuat mengingat kembali kejadian yang pernah terjadi.
Malam indah bertaburan bintang diangkasa. Membuat hati luluh mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Berfikir melupakan masa kelam. Masalah yang ku hadapi dengan Dita telah usai dengan sendirinya.
Hari demi hari di sekolah setiap aku berjumpa dita, hanya melirik tatapan tajam. Namun, aku tak memperdulikan. Karena semua itu hanyalah kenangan pahit diantara aku dan dita. Aku pun dianggap orang asing bagi dita.
Lain halnya dengan aku. Hati kecilku berharap agar menjadi teman baik. Tapi itu semua aku kubur agar suatu saat nanti dita menyadarinya. Berjalan dibawah ancaman jurang kematian.
Menjalani hidup penuh cobaan berliku. Duri tak akan tercabut jika aku menjalani hidup penuh putus asa. Penyesalan, dan benci berlebihan. Mengakibatkan diriku jatuh ke lubang kesengsaraan. ****


Nama; Jarwati
(Pelajar)
SMA MENTENX KUDUS
Kritik dan saran ;

Tidak ada komentar:

Posting Komentar