Duri
Dalam Nestapa
Kudus, 2010
Berjalan ditengah bebatuan berliku.
Penuh debu dibawah panas terik matahari. Rasa haus di tenggorokan menyurutkan
semangat menuju Air Tiga Rasa terletak di Puncak Muria. Rasa lelah menyelimuti badan
hingga jantung berdetak kencang.
Namun tetap bersemangat karena canda
tawa dari teman-teman membuat diriku mampu hingga disana. Aku menuju Montel dan
Air tiga rasa bersama 13 orang. Diantaranya ; mas adi, wawan, ali, faris, dita,
toni, sofi, atiq, ro’is, yulia, mas ari, tri, dan irwan. Memakai tas dan jaket
membuat tubuh semakin letih.
Tangga demi tangga kami lalui dengan
nafas terengah. Hingga akhirnya mengambil botol minuman kosong dari dalam tas. Mengambil
air tiga rasa dengan sebuah cangkir. Nampak, ku lihat dita bersama faris
bergandengan tangan ketika menuju Air Tiga Rasa.
Membuat api cemburu dalam hati meluap.
Namun, aku hilangkan perasaan itu. Karena aku dan faris telah menjadi mantan
kekasih.
“mas faris,
mendingan kamu balikkan meneh ambi mbak dita.” Ujarku dengan perasaan campur
aduk.
“nggak, tak
anggep temen semua !” jawab faris.
Sebelum mengisi air tersebut ke dalam
botol, ku sempatkan meminum seteguk dari salah satu air tersebut. Menghilangkan
rasa haus berlebihan. Beristirahat menghilangkan rasa lelah. Di tempat tersebut,
kami mengabadikan beberapa foto narsis.
Beberapa waktu kemudian, melangkahkan
kaki menuju rumah. Langkah demi langkah kita lalui bersama. Wawan, sudah ku
anggap kakak sendiri. Dengan rela menemani kala diriku kelelahan.
Dalam perjalanan pulang, melewati jalan
berliku. Toni, salah satu temanku karena mengantuk serta lelah. Tak sengaja
tergelincir di tepi jurang, Colo.
“Toni. . . .!
ton. . .! YaAllah Toni. . .!” sontak hatiku, berteriak memanggil nama toni. Aku
sangatlah hawatir dengan keadaannya.
Karena kala itu aku menyaksikan kejadian
tersebut. Disaat itu pula aku bersandar
di bahu wawan. Dengan segera ku turun dari kendaraan beroda dua. Orang sekitar
yang menyaksikan kejadian tersebut bergegas menuju tempat kejadian.
Aku hanya dapat menyaksikan dan terdiam.
Tak dapat berbuat untuk menolongnya. Kendaraan miliknya rusak parah.
Alhamdulillah toni selamat dari kecelakaan
tersebut.
Demi menjaga keselamatan untuk ke dua
kalinya, pengendara sepeda motor digantikan oleh tri. Tri adalah kekasih dita.
Tri sosok lelaki pendiam. Sesampai di kediaman mas adi kita beristirahat, memakan
sepiring mie yang sudah
dipersiapkan sebelumnya.
Karena Faris adalah seorang pemain PERSIKU, meninggalkan rumah mas adi.
Farispun tak lupa berpamitan denganku. Ku melirik toni duduk di atas kursi
sendiri. Tanpa pikir panjang ku ambilkan sepiring mie untuknya.
“Ton, tadi kamu
nggak apa ? iki tak ambilkan makan. Di maem yo...” tanya ku sambil menyodorkan sepiring mie.
“Yo nggak apa
rin...? halah, nggak usah ! males.” Jawabnya dingin. Terpaksa ku meninggalkan
toni sendiri. Sebelum aku, wawan, dan lainnya pulang ke rumah, kita berpamitan
dengan Tuan rumah, mas Adi.
Hufth, sesampai di rumah beristirahat di
tempat tidur hingga esok tiba. Terasa kaki patah, berjalan mengitari air terjun
Montel hingga Puncak Muria. Menjelang adzan maghrib aku beserta kaluarga menuju
mushola. Tanggal 1 Agusutus 2011 adalah puasa pertama.
Tak terasa baru duduk di bangku kelas
XI, lebaran sudah mendekati. Puasa hari pertama udara di pedesaan bagaikan api
menyambar langit biru. Join on the
facebooke, update status menghilangkan rasa jenuh di hari pertama puasa.
Ketika online, melihat foto profil yang familiar.
Dengan hati senang gemerlap, Akun FB
milik seseorang itu I’m add As friend. Tak lama kemudian Akun FB milikku di konfirmasi. Setiap status yang
ia tulis, aku comment. Ia pun
membalas comment dariku.
“eh
Alfa, kemaren toni jatuh ke jurang.” Begitu komentarku. Setelah kita saling komentar satu dengan lain.
“eh
alfa, kamu tau nggak ? waktu di Montel tuh si dita bermesraan mbi faris !
apalagi hubunganku dengan faris hancur tuh karna dita !” dengan hati
sakit tanpa pikir panjang, ucapan itu keluar dari mulut. Tapi tak ada respon dari Alfa.
Tiba-tiba ku mendapatkan sebuah pesan online dari Dita, membuat diri tersontak.
“eh rin, kowe gak usah ngono ! maksutmu
opo ngomong ke alfa ngunu !! aku yo gak pernah bahas kowe meneh , tapi ngene
opo kowe sing marai disik. Kowe
ngaran-ngarani aku..” pesan
dari Dita.
“maksutnya ? aku nggak bermaksut gitu
mbak..., orang waktu itu aku lihat Tri kelihatan kayak cemburu waktu kamu sama
faris. Aku ajak bicara juga dia nggak mau jawab kan ?” Jawabku.
“trus maksutmu opo meneh, kenopo kowe ngomong
ning konco-konconem nek aku sing ngrusak hubunganem ambi faris. Aku sms faris, faris ngomong ora. Sumpah rin aku gak
ngapusi.”
“iya maaf mbak kalau aku udah bicara
sembarangan. Heh SUMPAH DEMI ALLAH RASULALLAH !!! faris juga bilang iya waktu aku
tanya soal kamu ngancurin hubungan aku !! dan temanmu juga bilang gitu.” Jawabku dengan
penuh emosi.
“Faris podo wae ngomong SUMPAH DEMI
ALLAH, aku gak ngapusi rin. Yo wes, ngene wae,
aku, kowe, faris ketemu cah telu. Ben
masalah iki cepet bar. Pie rin ? wani opo ora ? oh yo, kowe
ngemis-ngemis njaluk maaf karo. Aku ora bakalan maafno kowe ! anggep wae kowe ora kenal karo aku selawase !”
balasan
pesan terakhir Dita.
Selang dua
hari pertikaian itu terjadi, aku, dita, faris bertemu di sebuah tempat. Di
sebuah keramaian kota dekat sekolah. Pandangan mata yang menatap wajahku
membuat hati semakin teriris. Raut wajah kesal menghiasi wajah dita membuat pandangan
mata berkaca.
“eh
mas faris, maksutmu opo ? wektu iku aku tanya sama kamu soal mbak dita ngrusak
hubungan kita! Tapi, kenopo kamu membalikkan fakta ? kamu jadi orang jahate
poul !” tanyaku padanya dengan linangan air mata. Faris yang berdiri
dihadapanku hanya terdiam dengan tatapan penuh penyesalan.
“eh
rin, aku nggak pernah ngrusak hubunganem ambi faris ! emange sopo sing ngomong
nek aku ngrusak hubunganem !” ucap dita dengan emosi tak menentu.
“kamu
pengen tahu sopo yang bilang gitu ? temenmu sendiri yang bilang... Kamu kenopo
tho mbak syirik sama aku..? aku nggak pengen punya masalah. Bentar lagi lebaran,
tapi kenopo sifatmu nggak berubah ?” ujarku menangis histeris.
“udah
rin, ojo nangis. Malu dilihat orang lain.” Faris mencoba menenangkan diriku.
“halah
nggak usah sok peduli, kamu jadi orang nggak konsisten ! aku nggak mau ngebahas
masalah ini lagi ! pokoknya tak anggep masalah ini clear !” ucapku dengan tetesan air mata membasahi pipi. Dengan hati
terluka, dengan cepat meninggalkan mereka berdua. Ku hidupkan mesin sepeda
motor. Dengan hati menggebu disepanjang perjalanan tak dapat mengahapus air
mata.
Setiap
tikungan sepanjang perjalanan semakin ku tambah laju kecepatan. Dengan pikiran
kacau, sesampai di jalan menuju desa tempat tinggalku, menabrak segrombolan
kambing. Si pengembala kambing memarahiku karena tak berhati-hati. Aku tak
memperdulikan nasehatnya.
Sesampai di
rumah berlari menuju kamar tidur. Menangis dengan wajah ku tutup dengan bantal.
Rasa sakit itu kembali mencekam. Wajah menjadi putih pucat, nafas tak teratur, jantung berdegup semakin kencang.
Membuat semakin
bersedih. Mengingat orang-orang yang selalu ada buatku, membuat semakin pasrah. Terlalu cepat bila harus
kembali kepada-Nya. Meninggalkan orang-orang yang aku sayang.
YaAllah,
jika ini memang takdirku aku rela. Mengapa semua ini harus terjadi
padaku ? seburuk itukah diriku?
Wajah menatap
sang bintang. Angin malam datang membuat tubuh mendekap seuntai kain tebal.
Rembulan datang menyinari wajah. Menatap langit biru yang gelap membuat
mengingat kembali kejadian yang pernah terjadi.
Malam indah
bertaburan bintang diangkasa. Membuat hati luluh mendengar lantunan ayat suci
Al-Qur’an. Berfikir melupakan masa kelam. Masalah yang ku hadapi dengan Dita
telah usai dengan sendirinya.
Hari demi hari
di sekolah setiap aku berjumpa dita, hanya melirik tatapan tajam. Namun, aku
tak memperdulikan. Karena semua itu hanyalah kenangan pahit diantara aku dan
dita. Aku pun dianggap orang asing bagi dita.
Lain halnya
dengan aku. Hati kecilku berharap agar menjadi teman baik. Tapi itu semua aku
kubur agar suatu saat nanti dita menyadarinya. Berjalan dibawah ancaman jurang
kematian.
Menjalani
hidup penuh cobaan berliku. Duri tak akan tercabut jika aku menjalani hidup penuh
putus asa. Penyesalan, dan benci berlebihan. Mengakibatkan diriku jatuh ke
lubang kesengsaraan. ****
Nama; Jarwati
(Pelajar)
SMA MENTENX KUDUS
Kritik dan saran ;
Tidak ada komentar:
Posting Komentar