17/04/2011
Perkataan
Membawa Malapetaka
Hari ini adalah hari pertama sekolah. Mentari
dari ufuk timur mulai bersinar. Terdengar suara kendaraan mulai rame. Orang
yang bekerja mulai terlihat. Suara gemericik terdengar merdu dari arah timur
ternyata suara tersebut berasal dari orang menyiram tanaman.
Disepanjang jalan, nampak semua orang
bergembira. Senyuman-senyuman mulai mengembang, menyapa kesana sini.
Tet...Tet...Tet...Tet... Bel berbunyi begitu sampai sekolah jam 07.00 wib. Seluruh
siswi kembali ke kelas masing-masing.
Jam pelajaran dimulai sangat
menyenangkan. Sekolah ini dekat dengan tempat penjualan berbagai jenis barang
dan diapit oleh sebuah sawah luas serta pemandangan luar biasa. Disaat
pelajaran dimulai, seluruh siswi memperhatikan mata pelajaran dengan serius
tetapi agak santai. Diawali dari tiga gadis remaja Nirwana, Fathiya, dan Risma.
Nirwana, gadis berjilbab yang jarang berbicara. Fathiya,
dengan rambut satu ikat di kepala. Risma, rambutnya lebih suka ia gerai.
Menurutnya, rambut yang di gerai lebih manis daripada di ikat.
Mereka dikenal oleh seluruh sekolah. Sebab,
kecentilan dan kebaikan, mereka dikenal baik. Tetapi, kala ulangan harian tiba
Fathiya dan Risma bekerjasama. Namun jika Fathiya dan Risma meminta jawaban
kepada Nirwana, tidak pernah diberikan.
Hari berlari menuju hari selanjutnya,
dan bulan berlari menuju bulan sebelum Ujian Nasional. Suka duka cita dan
derita telah mereka jalani. Hingga ibu bapak Guru heran pada mereka. Sebab
kedekatan mereka layaknya saudara sekandung.
Di hari Minggu Fathiya dan Nirwana menemui
Risma. Ternyata sesampainya Risma tidak ada. Risma pergi bersama Dewi ke tempat
kekasihnya. Dengan segera Nirwana menghubungi Risma untuk kembali, namun Risma
tidak ingin kembali pulang dengan alasan Risma dan Dewi pergi melayat di rumah
kekasihnya.
Risma juga dihubungi oleh kakaknya bernama
Deni namun masih tidak bisa. Akhirnya Risma meninggalkan rumah kekasihnya.
Sesampai di rumah Risma tidak melihat mereka.
Ternyata
mereka sudah pulang terlebih dahulu. Pesona kecantikan Nirwana, membuat hati Deni
luluh.
“Ris, sepertinya aku telah menaruh hati
pada temanmu Nirwana,” kata Deni sambil meletakkan handphone di atas TV.
Risma hanya berdiam diri mendengar perkataan Deni. Dengan kebaikan hati Risma, akhirnya
cinta mereka menyatu.
Deni, kakak Risma. Mempunyai paras tampan
nan rupawan dengan badan tegap layaknya ksatria. Hingga akhirnya membuat
Nirwana menerima cinta Deni. Menerima dengan ketulusan hati.
Setiap hari Minggu Nirwana dan Fathiya
bermain ke tempat Risma. Karena disitu Nirwana dapat bertemu dengan Deni.
Fathiya dan Risma hanya menyaksikan kemesraan mereka. Fathiya yang keras kepala
tidak tahan dengan kemesraan mereka.
Setiap hari di sekolah, Risma dan Fathiya
selalu memojokkan Nirwana. Sebab kedua sahabat itu tidak sengaja menyaksikan
Deni dan Nirwana melakukan tindakan tidak wajar.
“Ih, naudzubillahi min dzalik!
Dalam islam ‘kan melarang kita yang namanya P-A-C-A-R-A-N! Apalagi kita ini
masih SMP! Benar nggak Ris,” kata Fathiya.
“Benar banget tuh sob,” ucap Risma
sambil mengacungkan jempol kanannya.
Nirwana yang mendengar perkataan itu,
menjadi sedih. Hingga setiap kali Nirwana bertemu dengan Deni kala ke rumah
Risma, Nirwana bersikap dingin pada Deni.
Tiga bulan berlalu, Nirwana sengaja berselingkuh dengan tetangganya.
“Kak, tadi Nirwana bercerita ke aku
kalau dia selingkuh sama tetangganya,” kata Risma kala pulang sekolah sambil
meletakkan tas cangklongnya. Hati Deni menjadi hancur berkeping-keping telah
disakiti oleh gadis lembut bernama Nirwana.
Keesokkan harinya Nirwana dan Fathiya
menemui Deni di hari Minggu pukul 10.00
wib. Kala itu Nirwana memakai jaket pink dengan rambut panjangnya diikat
menjadi satu.
“Yang pakai jaket warna pink
nggak lulus!” Perkataan itu sengaja Deni lontarkan dengan perasaan hancur penuh
kekecewaan. Perkataan itu disaksikan oleh Risma dan Fathiya. Mereka berdua
hanya tertudun setelah Deni melontarkan perkataan yang tak semestinya di
ucapkan. Setelah Deni mengatakannya, badai mengguncang hati Nirwana. Suasanapun
menjadi senyap seketika.
Tiga hari sebelum Ujian Nasional, istighosah
dilaksanakan terlebih dahulu. Saat Ujian Nasional hari pertama paket soal belum
dibagikan Fathiya, Risma, dan Nirwana membuat sebuah perjanjian.
“Siapa diantara salah satu dari kita
yang pelit memberikan jawaban paket soal atau jawaban paket soal itu benar tapi
disalahkan maka nggak akan lulus. Kalian setuju?” ucap Fathiya dengan raut tegang.
“Setuju banget, iya benar banget tuh. Nih
Fath, biasanya Nirwana yang pelit banget kalau ada soal ulangan gini. Apalagi
ini ‘kan Ujian, tau deh!” jawab Risma sambil menunjuk Nirwana.
“Iya aku emang pelit tapi kalau paket soal
aku janji nggak akan pelit,” sahut Nirwana dengan raut wajah penuh beban
pikiran.
“Alah paling juga kamu bohong. Iya nggak
ris?!” ujar Fathiya.
“Bener banget tuh! Makanya jadi orang
tuh jangan pelit. Dasar egois!” ucap Risma.
“Nggak ah...aku nggak egois ah... Fathiya
gitu kok!” celetuk Nirwana.
Bel berbunyi, paket soal akhirnya
dibagikan. Sebelum mengerjakan paket soal, seluruh siswi berdoa kepada Sang Kuasa
agar dipermudahkan mengerjakan paket soal. Tidak lupa ketua kelas telah membuat
taktik kerjasama antar paket. Alhamdulilah, Fathiya dan Risma satu
ruangan, mereka pun mudah untuk saling bekerjasama.
Tapi lain dengan Nirwana, ia berada di
ruang sebelah. Risma dan fathiya merasa iba dengan Nirwana. Sebab di ruangan
tersebut Nirwana tidak ada teman dekat. Hanya Risma dan Fathiya teman dekat Nirwana.
Empat hari usai mengerjakan paket soal
Ujian Nasional, Fathiya dan Risma mendapat berita dari Siti,
“Eh Ris, Fath, kalian tahu nggak?
Kemarin saat ngerjain paket soal Nirwana satu ruangan denganku. Tapi waktu itu
dia pelit nggak mau kerjasama. Hanya dua kali dalam empat hari dia ngasih
jawaban paket soal. Egois....! padahal menjelang Ujian Nasional pak Bayu sudah
berpesan kalau saat Ujian Nasional pelit nggak akan lulus,” kata Siti.
“Udah biarin aja, dia tuh emang udah
pelit dari kecil jadi nggak usah heran,” sahut Hartatik sedari kantin.
Satu bulan berlalu, waktu berjalan tiada
henti. Pengumuman kelulusan tiba. Pengumuman tersebut yang mengambil adalah
orangtua murid. Hati seluruh siswa menjadi dag...dig...dug...
“Alhamdullilah Yaallah...
akhirnya lulus...!”
Dengan senangnya siswa yang mendapatkan
kelulusan. Salah satu diantara seluruh siswa yang lulus, Risma dan Fathiya juga
merasakan kebahagiaan itu. Sebab Risma dan Fathiya telah lulus. Tidak lupa
kedua sahabat itu bersujud syukur.
Setelah pengambilan surat pernyataan
selesai, Risma dan Fathiya pulang ke rumah. Fathiya yang sedang gembira
berkunjung ke rumah Nirwana. Sesampainya mereka berbincang. Ditengah
perbincangan saat Fathiya bertanya kepada Nirwana, suasana yang tadinya
menyenangkan berubah menjadi histeria.
“Nir, kamu lulus?” tanya Fathiya.
“Fath...Fathiya...aku nggak lulus,” Nirwana
menjawabnya dengan lelehan airmata. Fathiya pun tercengang dengan jawaban Nirwana.
“Ya sudah kamu sabar aja. Ya sudah Nir
jangan nangis, kita ‘kan sahabat.” hibur Fathiya.
“Lebih baik aku mati aja daripada aku
hidup begini.” ucap Nirwana sambil mengambil pisau dari atas laci TV. Ia lalu
hampir menggoreskan pisau di urat nadinya.
“Udahlah Nir aku mohon jangan..! Dosa! Meskipun
kamu nggak lulus kamu masih bisa nglanjutin sekolah kok!” larang Fathiya
sambil memegang tangan kanan Nirwana.
“Tapi aku ingin sekolah di SMA NU Al-Ma’ruf,
apa bisa?” tanya Nirwana sambil menjatuhkan pisau dapur.
“Aku nggak tahu lah Nir, kamu coba saja.”
jawab Fathiya.
Hari Minggu kemudian Risma bermain ke
tempat Fathiya. Disana mereka bercerita. Sampai akhirnya Fathiya bercerita
tentang Nirwana yang mencoba bunuh diri. Ia mencoba bunuh diri karena Nirwana
tidak lulus.
Risma tercengang begitu mendengar kabar
tersebut. Beberapa menit kemudian mereka
ke tempat Nirwana. Sesampainya, Nirwana mengepel lantai ruang tamu. Kala Risma
bertanya pada Nirwana tentang kelulusan, ia melelehkan airmata yang membasahi
pipi. Sampai akhirnya
ibunya sempat menjatuhkan airmata melihat anaknya frustasi karena tidak
lulus. Diantara mereka bertiga Nirwana ibarat kepompong yang belum berubah
menjadi kupu-kupu. Karena Nirwana adalah seorang sahabat yang baru mereka
kenal. Nirwana adalah seorang sahabat yang hidup ditengah persahabatan diantara
Risma dan Fathiya.
Karena Risma dan Fathiya menjalin
hubungan persahabatan sejak duduk di bangku kelas 7.
“Ternyata
benar, perkataan kakak menjadi kenyataan.” bisik hati kecil Risma dengan
perasaan sedih.
“Padahal aku nggak mengingkari janji
kita, tapi kenapa aku nggak lulus. Apa karena aku udah nyakitin Deni? Pasti karena
perkataan Kakakmu, Ris,” ucap Nirwana mengeluarkan air mata.
“Kamu yang sabar ya Nir. Semoga Allah
mengampuni dosa Kakakku,” ujar Risma.
Setelah mereka mengobrol sejenak, Risma
dan Fathiya pulang ke rumah.
“Kak, kenapa sih Kakak tega ngedoain Nirwana?
Dia tuh nggak lulus beneran. dia tuh sampai ingin bunuh diri!”
“Salah sendiri Dia menduakan aku. Kalau
saja Dia nggak selingkuh, aku nggak akan berkata seperti itu!” ujar Deni.
“Huh! Jahat banget sih kamu Kak,” kata
Risma sambil meninggalkan Deni sendiri menuju kamar Risma.
Dua bulan kemudian pendaftaran sekolah
menengah atas dibuka. Dalam sebuah pengajian yang diisi oleh Habib Luthfi, di
rumah sebelah Nirwana, ia bertemu dengan kekasihnya.
“Gus, aku ingin sekolah di SMA NU
Al-Ma’ruf tapi aku nggak lulus!” kata Nirwana tertudun.
“Sudah jangan sedih, mending melanjutkan
sekolah sama aku saja di MA NU Assalam,” hibur Agus, kekasih Nirwana.
Nirwana si gadis berjilbab melanjutkan
sekolahnya di MA NU Assalam (jembatan bakinah ke barat) bersama Kekasihnya yang
baru. Maka, usai sudah penderitaan Nirwana.
Sedangkan
Fathiya si gadis kecil, centil, imut dan manja karena nilai Ujiannya minim,
melanjutkan sekolah swasta di Medini (maaf nama sekolah dirahasiakan). Terakhir
Risma si gadis crewet, meskipun lulus tapi nilai Ujiannya minim maka
melanjutkan sekolah di sebuah SMA swasta berada jauh dengan jarak rumahnya (maaf
nama sekolah dirahasiakan). Beberapa bulan berlalu. Mereka melanjutkan hidup
bersama teman yang baru.
Suatu ketika Risma menyusuri jalan
dikeramaian kota. Tidak sengaja sepintas, Risma bertemu Nirwana.
“Nir...! Nirwana...! Kamu mau
kemana....?!” tanya Risma berteriak sambil mengayuh sepeda, tapi Nirwana
bersikap dingin dengan pertanyaan risma. Ia seolah tak mendengar perkataan Risma.
Risma kembali memutar sepeda menuju
rumahnya.
“Kak Deni, tadi aku bertemu sama Nirwana
tapi ia tak sapa nggak menoleh sedikit pun ke arahku. Aku takut Nirwana masih
menyimpan luka atas apa yang dialaminya. Aku ingin kakak menemuinya dan minta
maaf,” ujar Risma. Entah ada angin apa, tiba-tiba perasaan Deni luluh.
Dinyalakan kendaraan roda dua milik Deni.
“Ayo naik! Kita ke rumah Nirwana,” ucap
Deni segera.
Ditemui si gadis berjilbab itu, bersama
Deni kakak Risma. Deni pun meminta maaf kepada Nirwana karena
perkataan Deni membuat masa depan Nirwana hancur. Karena kepribadian Nirwana
yang lembut nan anggun, memaafkan segala kesalahan Deni. Tak pernah mengungkit
kenangan pahit bersama Deni. Dibalik kepribadian nirwana yang lembut, ia adalah
gadis egois. Permintaan maaf Deni tak akan pernah merubah kesunyian hati Nirwana.****
NB : Pernah di muat di
Media Annida Online