Kamis, 21 Juni 2012


#Surat Yang Tertunda 3
Kudus, 19 Jun 2012 19:07
From : Putri Marajusa
Untuk kesekian kalinya aku menggores pena di kertas ini untuk kukirim dan berharapa dapat kau baca. Tapi pada kenyataannya surat ini hanya terpajang di sebuah situs blog pribadiku. Aku menyimpan di ruangan maya ini pada suatu ketika kau menjelajah dunia maya, kau menemukan blog pribadiku dan membacanya. Pada saat itulah kau mengetahui gudang surat yang tertunda.
Surat yang akan kukirim padamu tapi saat ini kita tak pernah bertemu. Lantas bagaimana caranya agar surat-surat yang tertunda berada dalam genggamanmu? Aku tak tahu. Bertemu denganmu saja hanya dalam sebuah mimpi yang terkadang tak masuk akal. Aku di sini bersama goresan sederhana, kutumpahkan segala rasa dan asa.
Aku hanya dapat berdoa agar suatu saat nanti bisa bertemu denganmu dalam sebuah ikatan suci. Hari ini kuambil sebuah tinta lalu kuukir diatas kertas membentuk sebuah kalimat sederhana untukmu. Aku tidak tahu bagaimana bertemu denganmu. Aku sangat ingin bertemu denganmu.
Tahukah kamu? Omku pernah berkata padaku untuk berhenti sekolah. Tapi aku tidak ingin berhenti di tengah jalan. Aku ingin terus berjalan ke depan hingga mendapatkan apa yang aku cita-citakan. Namun Tuhan tidak pernah berhenti memeberiku cobaan.
Aku benar-benar bingung. Untuk itu aku goreskan surat ini untukmu, sayang. Agar kamu tahu masalah apa yang tengah aku hadapi sekarang. Dulu sebelum kamu pergi, kamu yang selalu setia menjadi tempat curahan hatiku.
Dan Insya Allah hari liburan esok aku ingin ke rumahmu dengan memberimu sebuah kejutan kecil. Aku benar-benar rindu padamu. Kamu hanya akan menjadi pacar khayalan. Setiap hari aku hanya berkhayal kamu menjadi pacar khayalan.
***
Moh. Akrom, saat ini namamu masih menggenang dalam ingatanku. Kapan ya kita dapat bertemu? Sesungguhnya aku ingin sekali kamu memaafkan aku atas perasaan yang tak jelas ini. Aku ingin mengulang masa-masa dulu. Masa-masa indah di kelas satu.
Harapanku pada surat tertunda yang ketiga ini, segala impian Marajusa dapat terwujud satu persatu. Aku juga ingin menyampaikan hal yang penting padamu. Aku sangat merindukanmu. Lagu dangdut selalu rindu saat kuputar, aku selalu melelehkan airmata. Teringat padamu.
Tuhan...
Tolong beri aku kesempatan untuk bertemu dengannya. Tolong satukan kami dalam sebuah ikatan suci.
Tuhan...
Aku tidak ingin menjalani hidup dengan nasib yang mengenaskan.
Tuhan...
Aku ingin seperti mereka. Layaknya sang Putri raja hidup dengan kebahagiaan.
Tuhan...
Berbagai kritik dan komentar yang mereka lontarkan, selalu aku cerna dan aku simpulkan.
Tuhan...
Aku tidak ingin hidup dengan menyusahkan mereka.
Tuhan...
Tolong beri aku kesembuhan.
Tuhan...
Bagaimana aku menyimpulkan tentang hidup yang semakin tak berarti.
Kenapa Tuhan hidup ini penuh dengan kepura-puraan?
Tuhan...
Aku juga tidak pernah memungkiri kalau hidupku juga penuh dengan dramatisir dan kemunafikan. Tapi Tuhan aku ini hanya makhluk yang lemah. Aku ini bukan Malaikat atau Nabi yang mempunyai keistimewaan. Aku ini hanya makhluk yang egois, manja, penuh dosa, dan sakit-sakitan. Aku ini apa Tuhan...
Aku selalu mengeluh menghadapi hidup ini. Aku bukanlah makhluk sempurna Tuhan...
Tuhan apa yang harus kulakukan....
Aku bingung. Semuanya kacau! Aku bosan setiap hari mengeluh. Aku sudah berusaha sabar menghadapi cobaan. Tapi aku ini sebatas manusia yang tak punya kekuatan.
Lantas langkah apa yang harus aku tempuh. Ketika Si Om mengatakan hal itu, sebenarnya hatiku menjerit. Gerimis menjadi hujan. Pikiranku kacau!
Karena jarak yang aku tempuh antara sekolah dan rumah memakan jarak sekitar dua belas kilometer membuat tubuhku cukup goyah.
***
Untukmu sayang,
Kamu pernah berkata padaku untuk tidak pernah berhenti mengarungi hidup ini. Selebihnya kamu pernah berkata untuk menggapai cita-cita. Tapi kenapa kamu selesaikan pendidikanmu di kelas satu? Kenapa motivasimu tidak kamu jadikan prinsip dalam hidupmu? Kenapa semua jadi tanda tanya ketika aku bertanya padamu tentang prinsip hidupmu? Aku sadari semua itu.
Meski aku tak bertanya padamu aku sudah mendapatkan jawaban itu. Pertanyaan yang konyol. Krom, jika teman-teman menganggapku tak pernah ada, apa kamu juga berperasangka sama seperti mereka? Atau sebaliknya. Entahlah. Mbuh.
Aku stress!!! Aku stress memikirkan semua keadaan. Aku juga stress merasakan sakit yang aku derita. Tuhan....!!! Akrom...!!!
Aku hanya dapat berteriak melalui coretan-coretan yang tidak berguna. Coretan yang aku tujukan pada-Mu, Tuhan. Dan untukmu sayang, Moh. Akrom.
To : Moh. Akrom

Senin, 18 Juni 2012

Cerpen : Seputih Cinta Batik


Seputih Cinta Batik
Ala Agus Batik... itulah judul setiap karya masakan Agus lelaki muda berasal dari kota Banjarmasin, Kalimantan Barat. Berprofesi sebagai Guru di salah satu SMA Negeri Banjarmasin. Kecintaannya terhadap masakan Indonesia telah membawa ia ke Sidney, Australia. Selain ia mempunyai paras wajah tampan, ia juga mempunyai sifat penolong dan selalu rendah hati.
Setiap komentar negatif dari para chef master, membuat ia dibabak eliminasi. Namun semangat serta kesabaran dan keteguhan hati membuat ia menjadi yang terbaik dari kontestan lainnya. Dari awal perjalanan Agus menuju kitchen berkelas telah membuat ia semakin mengucap syukur kepada yang Kuasa. Mendapatkan uang ratusan juta rupiah.
Sebagian uangnya yang ia dapatkan dari hasil keringatnya, mampu membuat orang tuanya menginjak tanah Suci Mekkah. Sisa uang tersebut ia simpan di Bank Mandiri untuk bekal menikah bersama kekasihnya bernama Rahmi. Rahmi bekerja sebagai penjual makanan kantin disebuah SMA N 1 Banjar. Sebelumnya Rahmi juga salah seorang kontestan Mastercheff Indonesia yang tereliminasi di empat besar.
Setelah Rahmi tereliminasi, ia pun memutuskan merantau ke sebuah pulau di Kalimantan Barat tepatnya di kota Banjarmasin untuk bertemu Agus. Rahmi gadis polos serta mandiri telah meluluh lantakkan hati Agus. Agus begitu beruntung mendapatkan gadis bernama Rahmi. Sosok Rahmi telah merubah agus sebagai lelaki yang semakin bersemangat ketika menghadapi customer.
Agus sepulang dari restoran mewah miliknya, menaikki mobil mewah dengan melaju kecepatan tinggi. Ia menuju tempat Rahmi bekerja. Pandangan rahmi penuh dengan cinta membuat jantung agus bergetar. Mata indah bersinar mesra memandang wajah tampan agus.
Kring....Kring...Kring... bunyi telephon genggam terdengar dari dalam saku Agus membuat ia kaget.
Sorry Rahmi ada telepon dari temen. Bentar ya sayang.” ucap Agus penuh tangan bergetar.
“Iya sayang nggak apa-apa.” Jawab Rahmi mesra.
Dengan cepat agus meninggalkan rahmi di kantin sendirian. Rahmi semakin curiga dengan sikap Agus yang semakin aneh. Tanpa mengucapkan kata selamat jalan kepada Rahmi, Agus berlari dan masuk ke dalam mobil milikknya. Membuat perasaan Rahmi semakin galau.
Ternyata Agus mendapatkan telepon dari seorang wanita bernama Anjar. Gadis desa yang biasa, berpakaian secara berlebihan, centil, manja, serta judes. Sebenarnya gadis desa tersebut menyukai Agus semenjak ia berhasil menjadi seorang  mastercheff Indonesia. Perasaan terpendam karena agus sepenuhnya milik Rahmi, gadis kelahiran Padang.
Anjar hanya dapat memandang Agus bersama Rahmi dari kejauhan mata. Kemesraan Agus dan rahmi membuat api cemburu mulai tumbuh di hati Anjar. Semakin Agus dekat dengan Rahmi, semakin besar api cemburu membakar hati Anjar. Demi mendapatkan perhatian lebih dari Agus, anjar rela berpenampilan menyerupai Rahmi.
Anjar tak mempedulikan jika setiap ia melangkah, ditertawakan oleh sejauh mata memandang. Yang ada di benak Anjar hanyalah mendapatkan cinta dari Agus. Namun, Anjar tidak beruntung karena setiap ia berbicara dengan Agus dianggap sebagai angin lewat. Hati Anjar penuh luka tersayat.
Air mata yang berjatuhan membasahi pipinya tak pernah kering. Agus merasa iba ketika melihat Anjar menangis. Tidak sengaja mereka bertemu di taman kota. Hati Anjar gembira melihat Agus datang menghampiri.
Tetapi, Anjar selalu berakting didepan Agus. Ia berpura-pura menangis. Air mata buaya yang dibuat olehnya telah membuat mereka dekat. Tanpa perasaan apapun, demi membuat Anjar tersenyum kembali. Agus mengajak Anjar melewati masa indah.
Rahmi yang sedang bersandar di kantin miliknya, membayangkan wajah Agus dengan senyuman tersipu malu.
“Door ! woi Mbak, melamun aja nih. Pasti Mbak Rahmi mikirin Mas Agus ya..?!” goda Rini salah satu murid di SMA Negri 1 Banjar tersebut.
“Kamu apa-apaan sih rin, ngagetin Mbak aja,” kata Rahmi.
“Mbak, ada berita gawat nih Mbak...!” ucap Rini penuh kecemasan.
“Iya, memang ada apa?” tanya Rahmi penasaran.
“Mbak, please jangan marah ya..? sebenarnya tadi aku melihat Mas Agus sama Mbak Anjar di taman sedang berduaan,” kata Rini dengan raut wajah tegang.
“Apa?! Nggak mungkin.! Rin, kamu jangan bohong! Nggak mungkin agus...menghianati aku...” ucap Rahmi dengan satu tetesan airmata.
Dengan langkah cepat Rahmi berlari menuju taman dengan pakaian yang dikenakannya yaitu batik kesukaan Agus. Sesampai di taman kota, Rahmi melihat Agus sambil meniup mata Anjar. Hati Rahmi melihat Agus seperti itu telah membuat Rahmi tak berdaya. Rahmi yang termakan api cemburu melangkah menuju Agus.
Dengan hati hancur Rahmi memukul pipi Agus hingga memar. Suara keras terlontar dari bibir Rahmi telah membuat ia jatuh ke tanah kering. Kapanikkan mulai terlihat ketika darah keluar dari hidung Rahmi membuat perasaan Agus bersedih. Dengan senyuman bahagia dari bibir tipis Anjar membuat ia semakin ingin menghancurkan hidup Rahmi.
Setiap suara tangisan dan kesedihan dari Agus membuat Rahmi sadar seketika. Dalam lima menit itu pula, Rahmi mengucapkan perkataan yang tak seharusnya.
“Agus, entah kenapa akhir-akhir ini sikapmu aneh ke aku. Aku kira kamu akan menemaniku hingga matahari tak terbit lagi. Tapi kenyataannya ?” ujar Rahmi penuh kesedihan yang mendalam.
“Apa maksutmu Rah? Aku akan menemanimu sampai akhir menutup mata. Dan yang kamu lihat waktu itu, tak seperti yang kamu pikirkan.” Agus mencoba menjelaskan tetapi Rahmi masih tak percaya.
“Udahlah gus, jika aku sembuh nanti aku akan kembali ke Padang. Tetapi jika hidupku berakhir sampai disini aku ingin kamu menikah dengan Anjar.” Kata Rahmi berputus asa.
“Enggak Rah.. aku nggak akan membiarkan kamu pergi dari pelukku.” Agus semakin merintih mendengar perkataan Rahmi.
Lima menit berlalu, Rahmi kembali dalam keadaan tak sadarkan diri. Agus semakin menjerit memanggil nama Rahmi. Dokter serta perawat lainnya menangani keadaan Rahmi yang semakin kritis. Bunyi alarm dari dalam ruangan membuat perasaan Agus semakin bercampur aduk.
Ia sedih, bingung, cemas, disertai rasa pusing dikepala.
“Maaf pak kami sudah berusaha, namun...” kata dokter mneggelengkan kepala sambil menundukkan kepala.
“Tidak.....!!! Rahmi...!!! kenapa kamu ninggalin  aku sendiri...! padahal kamu sudah berjanji akan menemani diriku...!!” Agus hanya menyandarkan kepala di dinding warna putih. Ia yang tak sannggup kehilangan Rahmi, tak sanggup melihat wajah pucat Rahmi.
Kini kekasih yang disayangi telah meninggalkan Agus dalam sekejap. Kekasih yang terbujur kaku di tanah merah. Amanat yang diberikan oleh Rahmi kepadanya dengan terpaksa ia jalani. Karena sosok perempuan yang dicintainya telah meninggalkan kenangan semu.
Perasaan gembira yang ada dalam hati Anjar karena telah memiliki Agus sepenuhnya. Namun, Agus tidak bahagia dengan pernikahan tersebut. Setiap harinya sepulang kerja, rumah mewah berlantai dua dipenuhi keributan dan kekerasan. Suara pecah dimana-mana.
Anjar yang hanya menginginkan harta Agus, mencoba membawa kabur semua hartanya. Usahanya selalu gagal. Bayangan aneh yang nampak di dinding ruang tengah. Sosok bayangan perempuan berparas rahmi membuat Anjar menjadi semakin ketakutan.
Itu hanya imajinasi Anjar yang sudah menghancurkan hidup Agus dan Rahmi. Karena Agus tak sanggup lagi hidup dengan Anjar, ia menceraikan anjar talak tiga. Anjar semakin gila dengan keadaan yang dijalani. Anjar diusir oleh Agus bagaikan makanan sisa.
Kini Anjar tak ada tempat untuk berlindung dari kejamnya hujan dan panas. Ia mendatangi sebuah rumah penampungan anak yatim piatu. Hidup Agus mulai sukar ketika menghadapi pelanggan yang komplain dengan hidangan yang di masak oleh para pegawainya. Ia pun mulai berfikir ke depan.
Hidup tanpa pendamping memang sulit. Ia sadar kala melihat sepasang suami istri sedang duduk bermesraan. Menikmati hidangan istimewa yang di masak oleh para pegawai agus. Ingin rasanya Agus mengulangi kenangan indah bersama Rahmi ketika masih ada.
Sulit baginya mencari pendamping hidup. Karena sosok perempuan seperti Rahmi, telah merubah segalanya dalam hidup Agus. Di tinggalkannya meja yang tertata rapi nan elegan. Agus menuju sebuah tempat peristirahatan Rahmi yang terakhir.
Kala Agus memanjatkan doa serta menaburkan bunga diatas makam yang masih basah tersebut, ia bertemu sosok gadis berparas Rahmi. Dari wajah, mata, hidung hingga suara merdunya pun menyerupai dia. Agus tercengang melihat paras gadis tersebut. Di temuinya gadis tersebut, ternyata Rahmi masih hidup. Agus berfikir secara dua kali. Kenapa bisa begini?
Karena di kala dokter sedang menangani keadaan Rahmi, Rahmi sengaja bekerjasama dengan dokter tersebut. Maka terungkaplah segala kebohongan Rahmi yang selama ini masih hidup. Rahmi merahasiakan ini semua karena ingin membuktikan cinta tulus dari seorang Agus batik.****

NB :
Pernah muat di Media Widyatama_widyasastra dan
Di Forum Lingkar Pena Kudus

Perkataan Membawa Malapetaka


17/04/2011
Perkataan Membawa Malapetaka
Hari ini adalah hari pertama sekolah. Mentari dari ufuk timur mulai bersinar. Terdengar suara kendaraan mulai rame. Orang yang bekerja mulai terlihat. Suara gemericik terdengar merdu dari arah timur ternyata suara tersebut berasal dari orang menyiram tanaman.
Disepanjang jalan, nampak semua orang bergembira. Senyuman-senyuman mulai mengembang, menyapa kesana sini. Tet...Tet...Tet...Tet... Bel berbunyi begitu sampai sekolah jam 07.00 wib. Seluruh siswi kembali ke kelas masing-masing.
Jam pelajaran dimulai sangat menyenangkan. Sekolah ini dekat dengan tempat penjualan berbagai jenis barang dan diapit oleh sebuah sawah luas serta pemandangan luar biasa. Disaat pelajaran dimulai, seluruh siswi memperhatikan mata pelajaran dengan serius tetapi agak santai. Diawali dari tiga gadis remaja Nirwana, Fathiya, dan Risma.
Nirwana, gadis  berjilbab yang jarang berbicara. Fathiya, dengan rambut satu ikat di kepala. Risma, rambutnya lebih suka ia gerai. Menurutnya, rambut yang di gerai lebih manis daripada di ikat.
Mereka dikenal oleh seluruh sekolah. Sebab, kecentilan dan kebaikan, mereka dikenal baik. Tetapi, kala ulangan harian tiba Fathiya dan Risma bekerjasama. Namun jika Fathiya dan Risma meminta jawaban kepada Nirwana, tidak pernah diberikan.
Hari berlari menuju hari selanjutnya, dan bulan berlari menuju bulan sebelum Ujian Nasional. Suka duka cita dan derita telah mereka jalani. Hingga ibu bapak Guru heran pada mereka. Sebab kedekatan mereka layaknya saudara sekandung.
Di hari Minggu Fathiya dan Nirwana menemui Risma. Ternyata sesampainya Risma tidak ada. Risma pergi bersama Dewi ke tempat kekasihnya. Dengan segera Nirwana menghubungi Risma untuk kembali, namun Risma tidak ingin kembali pulang dengan alasan Risma dan Dewi pergi melayat di rumah kekasihnya.
Risma juga dihubungi oleh kakaknya bernama Deni namun masih tidak bisa. Akhirnya Risma meninggalkan rumah kekasihnya. Sesampai di rumah Risma tidak melihat mereka. Ternyata mereka sudah pulang terlebih dahulu. Pesona kecantikan Nirwana, membuat hati Deni luluh.
“Ris, sepertinya aku telah menaruh hati pada temanmu Nirwana,” kata Deni sambil meletakkan handphone di atas TV. Risma hanya berdiam diri mendengar perkataan Deni. Dengan kebaikan hati Risma, akhirnya cinta mereka menyatu.
Deni, kakak Risma. Mempunyai paras tampan nan rupawan dengan badan tegap layaknya ksatria. Hingga akhirnya membuat Nirwana menerima cinta Deni. Menerima dengan ketulusan hati.
Setiap hari Minggu Nirwana dan Fathiya bermain ke tempat Risma. Karena disitu Nirwana dapat bertemu dengan Deni. Fathiya dan Risma hanya menyaksikan kemesraan mereka. Fathiya yang keras kepala tidak tahan dengan kemesraan mereka.
Setiap hari di sekolah, Risma dan Fathiya selalu memojokkan Nirwana. Sebab kedua sahabat itu tidak sengaja menyaksikan Deni dan Nirwana melakukan tindakan tidak wajar.
“Ih, naudzubillahi min dzalik! Dalam islam ‘kan melarang kita yang namanya P-A-C-A-R-A-N! Apalagi kita ini masih SMP! Benar nggak Ris,” kata Fathiya.
“Benar banget tuh sob,” ucap Risma sambil mengacungkan jempol kanannya.
Nirwana yang mendengar perkataan itu, menjadi sedih. Hingga setiap kali Nirwana bertemu dengan Deni kala ke rumah Risma, Nirwana bersikap dingin pada Deni.
Tiga bulan berlalu, Nirwana  sengaja berselingkuh dengan tetangganya.
“Kak, tadi Nirwana bercerita ke aku kalau dia selingkuh sama tetangganya,” kata Risma kala pulang sekolah sambil meletakkan tas cangklongnya. Hati Deni menjadi hancur berkeping-keping telah disakiti oleh gadis lembut bernama Nirwana.
Keesokkan harinya Nirwana dan Fathiya menemui Deni di hari Minggu  pukul 10.00 wib. Kala itu Nirwana memakai jaket pink dengan rambut panjangnya diikat menjadi satu.
“Yang pakai jaket warna pink nggak lulus!” Perkataan itu sengaja Deni lontarkan dengan perasaan hancur penuh kekecewaan. Perkataan itu disaksikan oleh Risma dan Fathiya. Mereka berdua hanya tertudun setelah Deni melontarkan perkataan yang tak semestinya di ucapkan. Setelah Deni mengatakannya, badai mengguncang hati Nirwana. Suasanapun menjadi senyap seketika.
Tiga hari sebelum Ujian Nasional, istighosah dilaksanakan terlebih dahulu. Saat Ujian Nasional hari pertama paket soal belum dibagikan Fathiya, Risma, dan Nirwana membuat sebuah perjanjian.
“Siapa diantara salah satu dari kita yang pelit memberikan jawaban paket soal atau jawaban paket soal itu benar tapi disalahkan maka nggak akan lulus. Kalian setuju?” ucap Fathiya dengan raut tegang.
“Setuju banget, iya benar banget tuh. Nih Fath, biasanya Nirwana yang pelit banget kalau ada soal ulangan gini. Apalagi ini ‘kan Ujian, tau deh!” jawab Risma sambil menunjuk Nirwana.
“Iya aku emang pelit tapi kalau paket soal aku janji nggak akan pelit,” sahut Nirwana dengan raut wajah penuh beban pikiran.
“Alah paling juga kamu bohong. Iya nggak ris?!” ujar Fathiya.
“Bener banget tuh! Makanya jadi orang tuh jangan pelit. Dasar egois!” ucap Risma.
“Nggak ah...aku nggak egois ah... Fathiya gitu kok!” celetuk Nirwana.
Bel berbunyi, paket soal akhirnya dibagikan. Sebelum mengerjakan paket soal, seluruh siswi berdoa kepada Sang Kuasa agar dipermudahkan mengerjakan paket soal. Tidak lupa ketua kelas telah membuat taktik kerjasama antar paket. Alhamdulilah, Fathiya dan Risma satu ruangan, mereka pun mudah untuk saling bekerjasama.
Tapi lain dengan Nirwana, ia berada di ruang sebelah. Risma dan fathiya merasa iba dengan Nirwana. Sebab di ruangan tersebut Nirwana tidak ada teman dekat. Hanya Risma dan Fathiya teman dekat Nirwana.
Empat hari usai mengerjakan paket soal Ujian Nasional, Fathiya dan Risma mendapat berita dari Siti,
“Eh Ris, Fath, kalian tahu nggak? Kemarin saat ngerjain paket soal Nirwana satu ruangan denganku. Tapi waktu itu dia pelit nggak mau kerjasama. Hanya dua kali dalam empat hari dia ngasih jawaban paket soal. Egois....! padahal menjelang Ujian Nasional pak Bayu sudah berpesan kalau saat Ujian Nasional pelit nggak akan lulus,” kata Siti.
“Udah biarin aja, dia tuh emang udah pelit dari kecil jadi nggak usah heran,” sahut Hartatik sedari kantin.
Satu bulan berlalu, waktu berjalan tiada henti. Pengumuman kelulusan tiba. Pengumuman tersebut yang mengambil adalah orangtua murid. Hati seluruh siswa menjadi dag...dig...dug...
Alhamdullilah Yaallah... akhirnya lulus...!”
Dengan senangnya siswa yang mendapatkan kelulusan. Salah satu diantara seluruh siswa yang lulus, Risma dan Fathiya juga merasakan kebahagiaan itu. Sebab Risma dan Fathiya telah lulus. Tidak lupa kedua sahabat itu bersujud syukur.
Setelah pengambilan surat pernyataan selesai, Risma dan Fathiya pulang ke rumah. Fathiya yang sedang gembira berkunjung ke rumah Nirwana. Sesampainya mereka berbincang. Ditengah perbincangan saat Fathiya bertanya kepada Nirwana, suasana yang tadinya menyenangkan berubah menjadi histeria.
“Nir, kamu lulus?” tanya Fathiya.
“Fath...Fathiya...aku nggak lulus,” Nirwana menjawabnya dengan lelehan airmata. Fathiya pun tercengang dengan jawaban Nirwana.
“Ya sudah kamu sabar aja. Ya sudah Nir jangan nangis, kita ‘kan sahabat.” hibur Fathiya.
“Lebih baik aku mati aja daripada aku hidup begini.” ucap Nirwana sambil mengambil pisau dari atas laci TV. Ia lalu hampir menggoreskan pisau di urat nadinya.
“Udahlah Nir aku mohon jangan..! Dosa! Meskipun kamu nggak lulus kamu masih bisa nglanjutin sekolah kok!” larang Fathiya sambil memegang tangan kanan Nirwana.
“Tapi aku ingin sekolah di SMA NU Al-Ma’ruf, apa bisa?” tanya Nirwana sambil menjatuhkan pisau dapur.
“Aku nggak tahu lah Nir, kamu coba saja.” jawab Fathiya.
Hari Minggu kemudian Risma bermain ke tempat Fathiya. Disana mereka bercerita. Sampai akhirnya Fathiya bercerita tentang Nirwana yang mencoba bunuh diri. Ia mencoba bunuh diri karena Nirwana tidak lulus.
Risma tercengang begitu mendengar kabar tersebut. Beberapa  menit kemudian mereka ke tempat Nirwana. Sesampainya, Nirwana mengepel lantai ruang tamu. Kala Risma bertanya pada Nirwana tentang kelulusan, ia melelehkan airmata yang membasahi pipi. Sampai akhirnya ibunya sempat menjatuhkan airmata melihat anaknya frustasi karena tidak lulus. Diantara mereka bertiga Nirwana ibarat kepompong yang belum berubah menjadi kupu-kupu. Karena Nirwana adalah seorang sahabat yang baru mereka kenal. Nirwana adalah seorang sahabat yang hidup ditengah persahabatan diantara Risma dan Fathiya.
Karena Risma dan Fathiya menjalin hubungan persahabatan sejak duduk di bangku kelas 7.
Ternyata benar, perkataan kakak menjadi kenyataan.” bisik hati kecil Risma dengan perasaan sedih.
“Padahal aku nggak mengingkari janji kita, tapi kenapa aku nggak lulus. Apa karena aku udah nyakitin Deni? Pasti karena perkataan Kakakmu, Ris,” ucap Nirwana mengeluarkan air mata.
“Kamu yang sabar ya Nir. Semoga Allah mengampuni dosa Kakakku,” ujar Risma.
Setelah mereka mengobrol sejenak, Risma dan Fathiya pulang ke rumah.
“Kak, kenapa sih Kakak tega ngedoain Nirwana? Dia tuh nggak lulus beneran. dia tuh sampai ingin bunuh diri!”
“Salah sendiri Dia menduakan aku. Kalau saja Dia nggak selingkuh, aku nggak akan berkata seperti itu!” ujar Deni.
“Huh! Jahat banget sih kamu Kak,” kata Risma sambil meninggalkan Deni sendiri menuju kamar Risma.
Dua bulan kemudian pendaftaran sekolah menengah atas dibuka. Dalam sebuah pengajian yang diisi oleh Habib Luthfi, di rumah sebelah Nirwana, ia bertemu dengan kekasihnya.
“Gus, aku ingin sekolah di SMA NU Al-Ma’ruf tapi aku nggak lulus!” kata Nirwana tertudun.
“Sudah jangan sedih, mending melanjutkan sekolah sama aku saja di MA NU Assalam,” hibur Agus, kekasih Nirwana.
Nirwana si gadis berjilbab melanjutkan sekolahnya di MA NU Assalam (jembatan bakinah ke barat) bersama Kekasihnya yang baru. Maka, usai sudah penderitaan Nirwana. Sedangkan Fathiya si gadis kecil, centil, imut dan manja karena nilai Ujiannya minim, melanjutkan sekolah swasta di Medini (maaf nama sekolah dirahasiakan). Terakhir Risma si gadis crewet, meskipun lulus tapi nilai Ujiannya minim maka melanjutkan sekolah di sebuah SMA swasta berada jauh dengan jarak rumahnya (maaf nama sekolah dirahasiakan). Beberapa bulan berlalu. Mereka melanjutkan hidup bersama teman yang baru.
Suatu ketika Risma menyusuri jalan dikeramaian kota. Tidak sengaja sepintas, Risma bertemu Nirwana.
“Nir...! Nirwana...! Kamu mau kemana....?!” tanya Risma berteriak sambil mengayuh sepeda, tapi Nirwana bersikap dingin dengan pertanyaan risma. Ia seolah tak mendengar perkataan Risma.
Risma kembali memutar sepeda menuju rumahnya.
“Kak Deni, tadi aku bertemu sama Nirwana tapi ia tak sapa nggak menoleh sedikit pun ke arahku. Aku takut Nirwana masih menyimpan luka atas apa yang dialaminya. Aku ingin kakak menemuinya dan minta maaf,” ujar Risma. Entah ada angin apa, tiba-tiba perasaan Deni luluh. Dinyalakan kendaraan roda dua milik Deni.
“Ayo naik! Kita ke rumah Nirwana,” ucap Deni segera.
Ditemui si gadis berjilbab itu, bersama Deni kakak Risma. Deni pun meminta maaf kepada Nirwana karena perkataan Deni membuat masa depan Nirwana hancur. Karena kepribadian Nirwana yang lembut nan anggun, memaafkan segala kesalahan Deni. Tak pernah mengungkit kenangan pahit bersama Deni. Dibalik kepribadian nirwana yang lembut, ia adalah gadis egois. Permintaan maaf Deni tak akan pernah merubah kesunyian hati Nirwana.****

NB : Pernah di muat di
Media Annida Online

Kisah sejati


Duri Dalam Nestapa
Kudus, 2010
Berjalan ditengah bebatuan berliku. Penuh debu dibawah panas terik matahari. Rasa haus di tenggorokan menyurutkan semangat menuju Air Tiga Rasa terletak di Puncak Muria. Rasa lelah menyelimuti badan hingga jantung berdetak kencang.
Namun tetap bersemangat karena canda tawa dari teman-teman membuat diriku mampu hingga disana. Aku menuju Montel dan Air tiga rasa bersama 13 orang. Diantaranya ; mas adi, wawan, ali, faris, dita, toni, sofi, atiq, ro’is, yulia, mas ari, tri, dan irwan. Memakai tas dan jaket membuat tubuh semakin letih.
Tangga demi tangga kami lalui dengan nafas terengah. Hingga akhirnya mengambil botol minuman kosong dari dalam tas. Mengambil air tiga rasa dengan sebuah cangkir. Nampak, ku lihat dita bersama faris bergandengan tangan ketika menuju Air Tiga Rasa.
Membuat api cemburu dalam hati meluap. Namun, aku hilangkan perasaan itu. Karena aku dan faris telah menjadi mantan kekasih.
“mas faris, mendingan kamu balikkan meneh ambi mbak dita.” Ujarku dengan perasaan campur aduk.
“nggak, tak anggep temen semua !” jawab faris.
Sebelum mengisi air tersebut ke dalam botol, ku sempatkan meminum seteguk dari salah satu air tersebut. Menghilangkan rasa haus berlebihan. Beristirahat menghilangkan rasa lelah. Di tempat tersebut, kami mengabadikan beberapa foto narsis.
Beberapa waktu kemudian, melangkahkan kaki menuju rumah. Langkah demi langkah kita lalui bersama. Wawan, sudah ku anggap kakak sendiri. Dengan rela menemani kala diriku kelelahan.
Dalam perjalanan pulang, melewati jalan berliku. Toni, salah satu temanku karena mengantuk serta lelah. Tak sengaja tergelincir di tepi jurang, Colo.
“Toni. . . .! ton. . .! YaAllah Toni. . .!” sontak hatiku, berteriak memanggil nama toni. Aku sangatlah hawatir dengan keadaannya.
Karena kala itu aku menyaksikan kejadian tersebut. Disaat itu pula aku bersandar di bahu wawan. Dengan segera ku turun dari kendaraan beroda dua. Orang sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut bergegas menuju tempat kejadian.
Aku hanya dapat menyaksikan dan terdiam. Tak dapat berbuat untuk menolongnya. Kendaraan miliknya rusak parah. Alhamdulillah toni selamat dari  kecelakaan tersebut.
Demi menjaga keselamatan untuk ke dua kalinya, pengendara sepeda motor digantikan oleh tri. Tri adalah kekasih dita. Tri sosok lelaki pendiam. Sesampai di kediaman mas adi kita beristirahat, memakan sepiring mie yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Karena Faris adalah seorang pemain PERSIKU, meninggalkan rumah mas adi. Farispun tak lupa berpamitan denganku. Ku melirik toni duduk di atas kursi sendiri. Tanpa pikir panjang ku ambilkan sepiring mie untuknya.
“Ton, tadi kamu nggak apa ? iki tak ambilkan makan. Di maem yo...”  tanya ku sambil menyodorkan sepiring mie.
“Yo nggak apa rin...? halah, nggak usah ! males.” Jawabnya dingin. Terpaksa ku meninggalkan toni sendiri. Sebelum aku, wawan, dan lainnya pulang ke rumah, kita berpamitan dengan Tuan rumah, mas Adi.
Hufth, sesampai di rumah beristirahat di tempat tidur hingga esok tiba. Terasa kaki patah, berjalan mengitari air terjun Montel hingga Puncak Muria. Menjelang adzan maghrib aku beserta kaluarga menuju mushola. Tanggal 1 Agusutus 2011 adalah puasa pertama.
Tak terasa baru duduk di bangku kelas XI, lebaran sudah mendekati. Puasa hari pertama udara di pedesaan bagaikan api menyambar langit biru. Join on the facebooke, update status menghilangkan rasa jenuh di hari pertama puasa. Ketika online, melihat foto profil yang familiar.
Dengan hati senang gemerlap,  Akun FB  milik seseorang itu I’m add As friend. Tak lama kemudian Akun FB milikku di konfirmasi. Setiap status yang ia tulis, aku comment. Ia pun membalas comment  dariku.
“eh Alfa, kemaren toni jatuh ke jurang.” Begitu komentarku. Setelah kita saling komentar satu dengan lain.
“eh alfa, kamu tau nggak ? waktu di Montel tuh si dita bermesraan mbi faris ! apalagi hubunganku dengan faris hancur tuh karna dita !” dengan hati sakit tanpa pikir panjang, ucapan itu keluar dari mulut. Tapi tak ada respon dari Alfa.
Tiba-tiba ku mendapatkan sebuah pesan online  dari Dita, membuat diri tersontak.
“eh rin, kowe gak usah ngono ! maksutmu opo ngomong ke alfa ngunu !! aku yo gak pernah bahas kowe meneh , tapi ngene opo kowe  sing marai disik. Kowe ngaran-ngarani aku..” pesan dari Dita.
“maksutnya ? aku nggak bermaksut gitu mbak..., orang waktu itu aku lihat Tri kelihatan kayak cemburu waktu kamu sama faris. Aku ajak bicara juga dia nggak mau jawab kan ?” Jawabku.
“trus maksutmu opo meneh, kenopo kowe ngomong ning konco-konconem nek aku sing ngrusak hubunganem ambi faris. Aku sms  faris, faris ngomong ora. Sumpah rin aku gak ngapusi.”
“iya maaf mbak kalau aku udah bicara sembarangan. Heh SUMPAH DEMI ALLAH RASULALLAH !!! faris juga bilang iya waktu aku tanya soal kamu ngancurin hubungan aku !! dan temanmu juga bilang gitu.” Jawabku dengan penuh emosi.
“Faris podo wae ngomong SUMPAH DEMI ALLAH, aku gak ngapusi rin. Yo wes, ngene wae,  aku, kowe, faris ketemu cah telu. Ben  masalah iki cepet bar. Pie rin ? wani opo ora ? oh yo, kowe ngemis-ngemis njaluk maaf karo. Aku ora bakalan maafno kowe !  anggep wae kowe ora kenal karo aku selawase !” balasan pesan terakhir Dita.
Selang dua hari pertikaian itu terjadi, aku, dita, faris bertemu di sebuah tempat. Di sebuah keramaian kota dekat sekolah. Pandangan mata yang menatap wajahku membuat hati semakin teriris. Raut wajah kesal menghiasi wajah dita membuat pandangan mata berkaca.
“eh mas faris, maksutmu opo ? wektu iku aku tanya sama kamu soal mbak dita ngrusak hubungan kita! Tapi, kenopo kamu membalikkan fakta ? kamu jadi orang jahate poul !” tanyaku padanya dengan linangan air mata. Faris yang berdiri dihadapanku hanya terdiam dengan tatapan penuh penyesalan.
“eh rin, aku nggak pernah ngrusak hubunganem ambi faris ! emange sopo sing ngomong nek aku ngrusak hubunganem !” ucap dita dengan emosi tak menentu.
“kamu pengen tahu sopo yang bilang gitu ? temenmu sendiri yang bilang... Kamu kenopo tho mbak syirik sama aku..? aku nggak pengen punya masalah. Bentar lagi lebaran, tapi kenopo sifatmu nggak berubah ?” ujarku menangis histeris.
“udah rin, ojo nangis. Malu dilihat orang lain.” Faris mencoba menenangkan diriku.
“halah nggak usah sok peduli, kamu jadi orang nggak konsisten ! aku nggak mau ngebahas masalah ini lagi ! pokoknya tak anggep masalah ini clear !” ucapku dengan tetesan air mata membasahi pipi. Dengan hati terluka, dengan cepat meninggalkan mereka berdua. Ku hidupkan mesin sepeda motor. Dengan hati menggebu disepanjang perjalanan tak dapat mengahapus air mata.
Setiap tikungan sepanjang perjalanan semakin ku tambah laju kecepatan. Dengan pikiran kacau, sesampai di jalan menuju desa tempat tinggalku, menabrak segrombolan kambing. Si pengembala kambing memarahiku karena tak berhati-hati. Aku tak memperdulikan nasehatnya.
Sesampai di rumah berlari menuju kamar tidur. Menangis dengan wajah ku tutup dengan bantal. Rasa sakit itu kembali mencekam. Wajah menjadi putih pucat, nafas tak teratur, jantung berdegup semakin kencang.
Membuat semakin bersedih. Mengingat orang-orang yang selalu ada buatku, membuat semakin pasrah. Terlalu cepat bila harus kembali kepada-Nya. Meninggalkan orang-orang yang aku sayang.
YaAllah,  jika ini memang takdirku aku rela. Mengapa semua ini harus terjadi padaku ? seburuk itukah diriku?
Wajah menatap sang bintang. Angin malam datang membuat tubuh mendekap seuntai kain tebal. Rembulan datang menyinari wajah. Menatap langit biru yang gelap membuat mengingat kembali kejadian yang pernah terjadi.
Malam indah bertaburan bintang diangkasa. Membuat hati luluh mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Berfikir melupakan masa kelam. Masalah yang ku hadapi dengan Dita telah usai dengan sendirinya.
Hari demi hari di sekolah setiap aku berjumpa dita, hanya melirik tatapan tajam. Namun, aku tak memperdulikan. Karena semua itu hanyalah kenangan pahit diantara aku dan dita. Aku pun dianggap orang asing bagi dita.
Lain halnya dengan aku. Hati kecilku berharap agar menjadi teman baik. Tapi itu semua aku kubur agar suatu saat nanti dita menyadarinya. Berjalan dibawah ancaman jurang kematian.
Menjalani hidup penuh cobaan berliku. Duri tak akan tercabut jika aku menjalani hidup penuh putus asa. Penyesalan, dan benci berlebihan. Mengakibatkan diriku jatuh ke lubang kesengsaraan. ****


Nama; Jarwati
(Pelajar)
SMA MENTENX KUDUS
Kritik dan saran ;