Senin, 18 Juni 2012

Cerpen : Sayap Hitam


 Sayap Hitam
Kudus, 2011
Kisah Sejati,
Di kedinginan yang menyelimuti dunia begitu terasa hingga sampai di pelosok negri. Bumi berkata, “Hari ini hari apa?” lalu langit menjawab, “Seperti biasa, hari ini adalah hari di mana para anak Adam dan Hawa menjalani kehidupan yang begitu kejam, dan kelak di akhir zaman akan di pertimbangkan amal manusia di dunia,”. Lautan dan daratan pun tak mau kalah dengan langit dan bumi, seolah-olah mereka juga menyaksikan dan ikut merasakan betapa kejam dunia yang dihuni oleh manusia-manusia yang serakah.
Di bawah terik sinar matahari yang memancar ke seluruh alam semesta, ku mengendarai sebuah sepeda motor menuju rumah sahabatku yang ada di Ngemplak, Undaan Kudus. Menuju rumah sederhana. Rumah yang berdinding batu bata merah dan berlantai tanah, meskipun sederhana rumah itu layaknya istana yang megah bagi mereka. Rumah yang senantiasa tempat untuk berserah diri kepada Allah SWT dan berlindung dari kejamnya panas dan rintikan air hujan. Di ruas halaman rumahnya aku menemukan potongan-potongan sayap-sayap putih yang terkena tinta hitam yang berceceran. Kuambil dan kumasukan dalam kantong plastik.
Fathiyatul Inayah, begitulah nama pemberian ke dua orangtuanya, tapi entah kenapa aku lebih nyaman memanggilnya Fathiya. Aku dan dia bersahabat sudah sejak lama, sejak duduk di bangku kelas tujuh menengah pertama. Aku dan dia sudah layaknya seperti saudara sekandung. Ya, Fathiya begitulah sosok gadis yang menurutku manja, centil, egois tapi imut dan yang paling menyebalkan bagiku adalah selalu membesar-besarkan masalah sepele. Aku pun hanya bisa sabar menahan keegoisannya.
Selebihnya ingin ku sapa dirinya namun hanya bisikan kata yang ku dengar. Ingin ku nyanyikan sebuah lagu sendu namun tak di dengar. Harus berapa kali aku mengatakan jika tak pernah menoleh nasehat dariku. Inikah dirinya yang sekarang? menghabiskan waktu bersama. Selama empat tahun t’lah berlalu,  kini selalu mengahabiskan waktu yang tersisa.
Selama itu pula selalu membuat diri terpingkal-pingkal mendengar banyolannya. Hingga suatu ketika hari Jum’at tanggal 3 Juni 2011, aku dan Fathiya pergi ke suatu tempat. Di setiap sudut ruangan berjejer rapi biling-biling yang di dalamnya terdapat komputer untuk mencari data.  Kita selalu bercanda tawa hingga tak kenal waktu. Kala Fathiya update status di salah satu teman facebook, Fathiya mengetikkan jari-jarinya di keyboard, melukis sebuah kalimat,
“Heh yus, kamu kok sombong banget siih, di sapa di Museum Rendeng kok gitu. Wah yus, cewekmu yang sekarang kok nggak cantik. Masih cantik Dian. Dan kamu tuh lebih pantes sama Dian (mantanmu). Kenalin dong yus sama cewekmu yang sekarang.”
“Fathiya! Kamu ini apa-apaan! Jangan sembarangan nulis menghina pacar orang, apalagi kamu ngupdet-nya pakai Akun Fbku,” larangku pada gadis manja itu sambil merebut mouse yang berada dalam genggamannya, namun ia hanya cengar-cengir.
Beberapa hari  setelah kejadian itu aku tak pernah lagi membuka Akun FB milikku. Aku hanya pergi bermain ke rumah Fathiya yang sederhana itu.
“Ris, aku takut banget kok soal statusku yang aku tulis di Akun FB yusrul....” kata Fathiya penuh kecemasan. Duduk berdampingan di atas ranjang kamarnay Fathiya.
“.....udah lah Fath, kamu sih menghina pacarnya di Akun FBnya yus.” ucapku santai sambil mengotak-atik handphone milikku.
“Eh Ris, kamu sms-an sama siapa? Sama Kak Khoirul anak Wates itu ya? Eh Ris, tolong mintain sama Kak Khoirul dong minta nomer Hpnya Ulya Asrofi. Asrofi Jebak Ris,” kata Fathiya sambil melirik pesan inbox di handphoneku, namun dengan kesalnya aku tak mengabulkan keinginan inayah. Sosok seorang lelaki seperti Asrofi tampan nan rupawan serta baik hati telah membuat hati inayah terpaku.
Sabtu, 18 Juni  2011. Aku meminta nomer handphone Ulya Asrofi melalui saudaranya, Kak Khoirul. Ulya Asrofi pun pernah singgah di hati Fathiya, namun karena ada sesuatu hubungan mereka rapuh. Aku berniat mengembalikan hubungan mereka yang pernah rapuh. Tidak terpikir olehku melalui sms aku mengaku sebagai Fathiya pada Asrofi.
Handphoneku kembali memekik. Aku kira pesan dari Asrofi ternyata dari nomer Hp yang asing yang tidak ada di daftar nama Hpku itu, mengirim sebuah pesan singkat padaku. Kubuka,
Heh Fathiya, kamu tuh nggak usah menjelek-jelekkan kekasihku. Urusanku! Urusanmu! by : yusrul.”
“Pesan dari Yusrul? Wah gawat nih, aku harus ngasih tahu sama Fathiya. Tapi pakai apa? Fathiya ‘kan nggak punya Hp,” desisku kebingungan setengah kaget. Yusrul, lelaki yang bersekolah di salah satu sekolah elite di Kudus.
Aku tidak peduli dengan pesannya itu yang membuat mataku gatal. Demi sahabat tercinta, aku rela mengorbankan perasaan demi membelanya. Hari berikutnya, Yusrul mengirimkan sms kepadaku yang berisi hubungan dengan kekasihnya telah hancur. Aku sendiri pun tak tahu apa penyebabnya. Mungkin karena tangan Fathiya yang telah menuliskan penghinaan di Akun Fb Yusrul. Ia masih mengira bahwa aku adalah Fathiya. Kubiarkan saja, toh hanya masalah sepele.
Aku mencoba menyakinkan Yusrul atas apa yang dilakukan Fathiya, tapi Yusrul masih tidak terima. Kata-kata kotor dan menyakitkan serta penghinaan ia kirimkan ke Hpku. Lebih hina dari kalimat yang dituliskan oleh Fathiya. Aku biarkan saja semua terjadi, biar waktu yang menjawab kesalahan-kesalahan yang terjadi. Lambat laun, aku semakin tidak terima dengan sms yang ia kirimkan kepadaku. Aku pun adalah manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran. Aku pun juga bukan lah seorang Baginda Nabi atau Rasul Allah yang bisa menahan segala penghinaan dari kaum kafir.
Dengan Bismillah dan Insya Allah, kuambil Handpone di atas meja belajar dan kupencet huruf demi huruf dan send. Terkirim ke sebuah nama, Yusrul.
“Yus, aku ingin ngaku sama kamu. Aku sebenarnya bukan Fathiya, tapi Risma. Maaf Yus, aku dan Fathiya nggak bermaksud menghina pacarmu. Tapi yang nulis itu bukan aku, tapi Fathiya!” Kutunggu balasan dari Yusrul.
Halah, sama saja. Kamu sama Fathiya nggak ada bedanya,
Lantas aku membalas,
 “kalau kamu pengin masalah ini cepat clear, hari Minggu juga tanggal 24 kamu datang ke rumah Fathiya. Biar nggak ada salah paham, tapi maaf besok aku nggak bisa datang,”
Kutunggu hingga pukul 22.45 wib,
“Nggak ada respon dari Yusrul. Ah, biarkan saja lah. Wallahu ‘alam. Mending aku tidur saja. Semoga besok di mudahkan semua oleh Allah,” ujarku seraya menarik selimut dan terlelap dalam kesunyiaan alam pedesaan.
24 Juni 2011 pukul 08.00 wib aku mendapatkan pesan dari Yusrul. Tiba-tiba ia menyalahkanku atas pecahnya hubungan Yusrul dengan kekasihnya. Ia juga mengatakan melalui sms kalau yang menuliskan kalimat dalam Akun Fb Yusrul adalah aku. Padahal aku tak tahu apa-apa. Ya, memang waktu itu menyaksikan secara nyata penghinaan itu tapi aku tidak melalukan apapun.
Nasib seseorang memang tidak selalu berpihak pada yang benar. Itulah roda kehidupan yang selalu berputar. Kadang begitu cepat dan terkadang begitu santai memutar kehidupan yang sempit ini. Aku tak tahu menahu tentang apa yang dikatakan pada Fathiya waktu itu. Yang aku tahu hanyalah lewat pesan singkat yang dikirimkan Yusrul, ia menyalahkan diriku dan sebaliknya Fathiya tidak tahu apa-apa tentang status itu.
“Kenapa Fathiya tega sekali memfitnahku? Padahal jelas-jelas dia yang menuliskan kalimat itu? Aku tak tahu iblis apa yang sudah merasuki jiwa Fathiya,” hatiku begitu  tersayat. Tak hentinya mataku melelehkan airmata. Airmataku semakin deras ketika bayangan-bayangan bersama Fathiya semasa SMP yang selalu membuat diriku terpingkal itu menggelayut dalam benak.
Entah apa yang ada dalam otakku sehingga angin yang berhamburan itu membawa diri sampai di rumah Fathiya yang sederhana itu. Demi membuktikan kebenaran, entah dapat bisikan dari mana sehingga tangan kananku melayang ke arah pipi Fathiya. Aku tak peduli jika orang-orang yang menyaksikan menyalahkan diriku,
“Fathiya! Kamu jadi orang nggak usah membalikkan fakta! Dan nggak usah terlalu mikir EGO!” ucapku tegas sambil melelehkan airmata.
“Maksutmu apa?” tanya inayah.
“Fath, lebih baik persahabatan kita cukup sampai disini.”jawabku dengan jawaban yang tak pasti membuat aku menundukkan kepala, airmataku semakin deras. Tak mampu menahan luka yang menganga dalam dada.
“Kamu ngomong apa tho?” tanya inayah kembali penuh keheranan.
“Jadi orang tuh jangan lari dari masalah. Dari malem sampai saat ini aku rela bertengkar dengan Yusrul  demi membelamu. Tapi apa balasanmu ke aku? Berfikir secara dewasa biar nantinya nggak  seperti  ini. Selama ini aku sudah sabar menghadapi sifatmu yang kekanak-kanakkan. Tapi jangan keterlaluan seperti ini. Apakah itu yang dinamakan seorang sahabat forever?” ujarku masih dalam linangan airmata
“Bukannya gitu sifatku emang gini masih kekanak-kanakkan. Aku jadi orang juga nggak terlalu mikirin EGOku sendiri. Aku tahu, aku hidup nggak sendiri makanya aku tergantung sama orang lain. Ya apa enggak?” kata inayah dengan hati yang galau. Matanya yang sipit, tak mampu lagi menahan bendungan air yang keluar dari matanya itu.
“Aku tahu tapi kamu itu bukan SMP lagi tapi udah SMA, jadi kamu harus berusaha untuk merubah itu  semua. Selama itu pula aku udah berusaha menuruti semua keinginanmu. Aku berusaha menjadi seorang sahabat yang terbaik buatmu. Aku juga nggak pernah menulis kata-kata di akun FBnya Yusrul!”
“Aku dapat berubah juga, aku dapat masukan dari orang lain. Yang menilai sifatku bukan diriku sendiri melainkan orang lain. Bajal tah nek mbok nalar.”
“Tetapi disetiap kamu aku nasehati, selalu kamu bantah. Nggak pernah kamu dengerin! Bagaimana caranya kamu dapat berubah kalau setiap kritik yang masuk selalu kamu bantah! aku udah nggak tahan lagi dengan sifatmu lebih baik kita PUTUS!!!! PUTUS  SELAMANYA!!! Biar kamu sadar apa itu arti persahabatan yang sesungguhnya!!” ucapku memejamkan mata seraya membalikkan tubuh dari hadapan Fathiya.
“Kalau itu maumu, aku terima. Semoga kamu dapat menemukan sahabat yang lebih baik dariku. Maaf jika aku udah buat kamu sakit hati.”
Mungkin setelah aku memberikan keputusan yang tak pasti, Fathiya merasakan luka batin yang sama denganku. Mungkin saja dia menangis. Aku tak tahu, sebab waktu itu aku langsung menghilang dari hadapan Fathiya. Aku juga tidak peduli dia menangis atau tidak, sebab dia sudah menghianti persahabatan yang telah aku bangun selama empat tahun.
 Begitu berat aku jalani, dengan terpaksa aku memutuskan persahabatan ini. Aku tak tahu jalan apa yang harus ku tempuh agar Yusrul tidak menyalahkanku. Air yang keluar dari mata, telah menjadi saksi bisu perpisahan diantara kita. Dan halaman rumah Fathiya yang sederhana itu pun menjadi saksi, tak luput langit bumi bersaksi penderitaan yang aku alami.
Satu bulan berlalu, bayangan kenangan indah bersama inayah membuatku ingat akan hal itu. Satu bulan itu pula telah aku jalani tanpa kehadiran seorang sahabat. Selama satu bulan itupun, di tidurku yang lelap. Bayangan tak nyata telah datang menghampiri, merajut kasih pershabatan bersama inayah.
17 Agustus 2011, usai memperingati upacara kemerdekaan RI yang ke 67 aku mengajak salah seorang teman sekelasku pergi ke lapangan upacara di Undaan Kidul. Namun, temanku tersebut tidak mau. Lantas aku pulang sendrian dengan tangan kosong. Hembusan angin dari arah timur, barat dan utara telah membawa diriku sampai di lapangan tersebut.
Aku menyaksikan Detik-Detik Proklamasi yang dibacakan oleh Pembina Upacara. Aku berada di tempat itu sendirian dan kesepian. Di atas tanggul yang membatasi wilayah antara Kudus-Demak kulihat pelajar-pelajar Undaan berjejer rapi. Aku merasa asing. Matahari yang sudah sampai diatas kepala telah membuat jaket yang aku kenakan untuk menutupi kepala.
Tidak lama kemudian, upacara yang dihadiri oleh seluruh siswa sekolah di Undaan Kidul usai. Kebingungan mencari teman yang sekolah di situ pula. Tetapi dari arah barat, mataku menangkap ada seorang gadis berseragam putih. Lengkap dengan jilbabnya datang menghampiriku. Semakin lama mataku menangkap gadis itu dengan jelas.
Mulanya aku mengira dia adalah orang lain. Tenyata Fathiya si gadis manja,
“Heh Ris, kamu ngapain di sini?” tanya Fathiya. Seakan kulihat rautnya tak ada beban yang mengelabui pikiran.
“Eh Fath, maksutmu tuh apa kamu gitu! Aku nggak rela kamu ngomong gitu sama Yusrul!” jawabku dengan nada sedikit tinggi.
“Lho Ris, waktu itu aku takut banget Yusrul dan Asrofi datang ke rumahku. Ya sudah nggak usah di perpanjang lagi. Aku minta maaf.” Ucap Fathiya sambil cengar-cengir.
“Ya sudah, aku maafin. Tapi kalau kamu ulangi sekali lagi, aku nggak akan maafin kamu. lagian ini juga bulan puasa.” Ujarku dengan balasan senyuman tipis.
Kita akhirnya pun berpelukkan dengan senyum bahagia. Orang mulai berbondong-bondong meninggalkan lapangan tersebut. Fathiya yang tak mempunyai kendaraan, aku pun sebagai sahabat mengantarkan ia pulang penuh canda tawa. Selama satu bulan lebih, akhirnya aku mendapatkan keajaiban tersebut yaitu kembali bersahabat dengan Fathiya.
Bukan cuma itu, Yusrul dan mantan kekasihnya telah meminta maaf padaku. Semua dapat kembali dengan normal. Tetapi rasa kesalku terhadap Fathiya, tak akan pernah pudar hingga dewasa nanti. Yang terpenting adalah aku dan Fathiya hari ini, esok dan selamanya akan selalu menjadi sahabat.
Aku dan Inayah kembali mencurahkan segala isi hati di atas ranjang kamarnya. Di dalam rumah istananya yang sederhana itu kita bercanda dengan tawa penuh canda. Sesekali aku keluar, menuju halaman depan rumah Fathiya. Kuambil potongan-potongan sayap hitam yang masih berada dalam kantong plastik itu. Kubuka, lalu kuterapkan potongan-potongan itu di selembar kertas kosong menggunakan lem kertas. Selesai menerapkan potongan-potongan itu, kupandangi potongan sayap hitam yang sudah menempel pada kertas.
“Seperti menempelkan puzle saja,” kutersenyum bahagia melihat potongan sayap yang berwarna hitam itu pun kembali menyatu dengan potongan lainnya. Dalam benak kuberkata, “Sayap-sayap putih yang terkena tinta hitam dan akhirnya menjadi sayap hitam itu pun kini telah menyatu dengan potongan yang lain. Seperti aku dan Fathiya, kini telah menyatu dalam ikatan jiwa yang menjadi best friend forever,”
Kukembali ke kamar Inayah, kulihat ia sedang asyik bermain. Kuserahkan kertas yang berhiaskan sayap hitam itu. Ia hanya mengembangkan senyum, aku pun membalas senyumannya yang kian bersinar. Menyinari kertas yang berhias sayap hitam, meskipun sayap itu hitam kini semakin bersinar terkena percikan senyuman di antara sahabat seperti kita, aku dan Fathiya untuk selamanya.
Walau sebesar apa pun bentuk lubang kehitaman yang diberikan oleh Sang Illahi Robbi, Insya Allah aku akan menjaga persahabatan ini sampai akhir zaman. Aku hanya dapat menunggu harapan agar Fathiya bisa berfikir secara dewasa dan bisa merubah sikapnya yang manja. Aku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa. Berdoa agar aku tidak seperti sayap hitam. Sayap putih yang berubah menjadi hitam karena ulah tangan seseorang. Karena kesalahan yang dibuat oleh tangan orang-orang zalim. Senantiasa ingin menghancurkan kebaikan umat Baginda Nabi di dunia, di alam semesta ini. Na’udzubillahimindzalika. Semoga Allah menerangkan jalan bagi mereka.

Kudus, 21/02/12
(8 Mulud 1433 H)
NB : Pernah di Muat
Di Media Annida Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar