Sayap Hitam
Kudus, 2011
Kisah Sejati,
Di kedinginan yang menyelimuti dunia
begitu terasa hingga sampai di pelosok negri. Bumi berkata, “Hari ini hari
apa?” lalu langit menjawab, “Seperti biasa, hari ini adalah hari di mana para
anak Adam dan Hawa menjalani kehidupan yang begitu kejam, dan kelak di akhir
zaman akan di pertimbangkan amal manusia di dunia,”. Lautan dan daratan pun tak
mau kalah dengan langit dan bumi, seolah-olah mereka juga menyaksikan dan ikut
merasakan betapa kejam dunia yang dihuni oleh manusia-manusia yang serakah.
Di bawah terik sinar matahari yang
memancar ke seluruh alam semesta, ku mengendarai sebuah sepeda motor menuju
rumah sahabatku yang ada di Ngemplak, Undaan Kudus. Menuju rumah sederhana.
Rumah yang berdinding batu bata merah dan berlantai tanah, meskipun sederhana
rumah itu layaknya istana yang megah bagi mereka. Rumah yang senantiasa tempat
untuk berserah diri kepada Allah SWT dan berlindung dari kejamnya panas dan
rintikan air hujan. Di ruas halaman rumahnya aku menemukan potongan-potongan
sayap-sayap putih yang terkena tinta hitam yang berceceran. Kuambil dan
kumasukan dalam kantong plastik.
Fathiyatul Inayah, begitulah nama
pemberian ke dua orangtuanya, tapi entah kenapa aku lebih nyaman memanggilnya
Fathiya. Aku dan dia bersahabat sudah sejak lama, sejak duduk di bangku kelas
tujuh menengah pertama. Aku dan dia sudah layaknya seperti saudara sekandung.
Ya, Fathiya begitulah sosok gadis yang menurutku manja, centil, egois tapi imut
dan yang paling menyebalkan bagiku adalah selalu membesar-besarkan masalah
sepele. Aku pun hanya bisa sabar menahan keegoisannya.
Selebihnya ingin ku sapa dirinya namun
hanya bisikan kata yang ku dengar. Ingin ku nyanyikan sebuah lagu sendu namun
tak di dengar. Harus berapa kali aku mengatakan jika tak pernah menoleh nasehat
dariku. Inikah dirinya yang sekarang? menghabiskan waktu bersama. Selama empat
tahun t’lah berlalu, kini selalu mengahabiskan
waktu yang tersisa.
Selama itu pula selalu membuat diri
terpingkal-pingkal mendengar banyolannya. Hingga suatu ketika hari Jum’at
tanggal 3 Juni 2011, aku dan Fathiya pergi ke suatu tempat. Di setiap sudut
ruangan berjejer rapi biling-biling yang di dalamnya terdapat komputer untuk
mencari data. Kita selalu bercanda tawa
hingga tak kenal waktu. Kala Fathiya update
status di salah satu teman facebook,
Fathiya mengetikkan jari-jarinya di keyboard, melukis sebuah kalimat,
“Heh
yus, kamu kok sombong banget siih, di sapa di Museum Rendeng kok gitu. Wah yus,
cewekmu yang sekarang kok nggak cantik. Masih cantik Dian. Dan kamu tuh lebih
pantes sama Dian (mantanmu). Kenalin dong yus sama cewekmu yang sekarang.”
“Fathiya! Kamu ini apa-apaan! Jangan sembarangan
nulis menghina pacar orang, apalagi kamu ngupdet-nya pakai Akun Fbku,” larangku pada gadis manja itu sambil merebut mouse
yang berada dalam genggamannya, namun ia hanya
cengar-cengir.
Beberapa hari setelah kejadian itu aku tak pernah lagi membuka
Akun FB milikku. Aku hanya pergi bermain ke rumah Fathiya yang sederhana
itu.
“Ris,
aku takut banget kok soal statusku yang aku tulis di Akun FB yusrul....” kata Fathiya penuh
kecemasan. Duduk berdampingan di atas ranjang kamarnay Fathiya.
“.....udah lah Fath, kamu sih menghina
pacarnya di Akun FBnya yus.” ucapku
santai sambil mengotak-atik handphone milikku.
“Eh Ris, kamu sms-an sama siapa?
Sama Kak Khoirul anak Wates itu ya? Eh Ris, tolong mintain sama Kak Khoirul
dong minta nomer Hpnya Ulya Asrofi. Asrofi Jebak Ris,” kata Fathiya
sambil melirik pesan inbox di handphoneku, namun dengan kesalnya
aku tak mengabulkan keinginan inayah. Sosok seorang lelaki seperti Asrofi tampan
nan rupawan serta baik hati telah membuat hati inayah terpaku.
Sabtu, 18 Juni 2011. Aku meminta nomer handphone Ulya Asrofi melalui saudaranya, Kak Khoirul. Ulya Asrofi
pun pernah singgah di hati Fathiya, namun karena ada sesuatu hubungan mereka
rapuh. Aku berniat mengembalikan hubungan mereka yang pernah rapuh. Tidak
terpikir olehku melalui sms aku mengaku sebagai Fathiya pada Asrofi.
Handphoneku kembali
memekik. Aku kira pesan dari Asrofi ternyata dari nomer Hp yang asing
yang tidak ada di daftar nama Hpku itu, mengirim sebuah pesan singkat
padaku. Kubuka,
“Heh Fathiya, kamu tuh nggak usah menjelek-jelekkan
kekasihku. Urusanku! Urusanmu! by : yusrul.”
“Pesan
dari Yusrul? Wah gawat nih, aku harus ngasih tahu sama Fathiya. Tapi pakai apa?
Fathiya ‘kan nggak punya Hp,” desisku kebingungan setengah kaget.
Yusrul, lelaki yang bersekolah di salah satu sekolah elite di Kudus.
Aku tidak peduli dengan pesannya itu
yang membuat mataku gatal. Demi sahabat
tercinta, aku rela mengorbankan perasaan demi membelanya. Hari berikutnya,
Yusrul mengirimkan sms kepadaku yang berisi hubungan dengan kekasihnya
telah hancur. Aku sendiri pun tak tahu apa penyebabnya. Mungkin karena tangan
Fathiya yang telah menuliskan penghinaan di Akun Fb Yusrul. Ia masih
mengira bahwa aku adalah Fathiya. Kubiarkan saja, toh hanya masalah sepele.
Aku mencoba menyakinkan Yusrul atas apa
yang dilakukan Fathiya, tapi Yusrul masih tidak terima. Kata-kata kotor dan
menyakitkan serta penghinaan ia kirimkan ke Hpku. Lebih hina dari
kalimat yang dituliskan oleh Fathiya. Aku biarkan saja semua terjadi, biar
waktu yang menjawab kesalahan-kesalahan yang terjadi. Lambat laun, aku semakin
tidak terima dengan sms yang ia kirimkan kepadaku. Aku pun adalah
manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran. Aku pun juga bukan lah seorang
Baginda Nabi atau Rasul Allah yang bisa menahan segala penghinaan dari kaum kafir.
Dengan Bismillah dan Insya
Allah, kuambil Handpone di atas meja belajar dan kupencet huruf demi
huruf dan send. Terkirim ke sebuah nama, Yusrul.
“Yus, aku ingin ngaku sama kamu. Aku sebenarnya
bukan Fathiya, tapi Risma.
Maaf Yus, aku dan Fathiya nggak bermaksud menghina pacarmu. Tapi yang nulis
itu bukan aku, tapi Fathiya!” Kutunggu balasan dari Yusrul.
“Halah, sama saja. Kamu sama Fathiya
nggak ada bedanya,”
Lantas aku membalas,
“kalau
kamu pengin masalah ini cepat clear, hari Minggu juga tanggal 24 kamu datang ke
rumah Fathiya. Biar nggak ada salah paham, tapi maaf besok aku nggak bisa
datang,”
Kutunggu hingga pukul 22.45 wib,
“Nggak ada respon dari Yusrul.
Ah, biarkan saja lah. Wallahu ‘alam. Mending aku tidur saja. Semoga
besok di mudahkan semua oleh Allah,” ujarku seraya menarik selimut dan terlelap
dalam kesunyiaan alam pedesaan.
24 Juni 2011 pukul 08.00 wib aku
mendapatkan pesan dari Yusrul. Tiba-tiba ia menyalahkanku atas pecahnya
hubungan Yusrul dengan kekasihnya. Ia juga mengatakan melalui sms kalau
yang menuliskan kalimat dalam Akun Fb Yusrul adalah aku. Padahal aku tak
tahu apa-apa. Ya, memang waktu itu menyaksikan secara nyata penghinaan itu tapi
aku tidak melalukan apapun.
Nasib seseorang memang tidak selalu
berpihak pada yang benar. Itulah roda kehidupan yang selalu berputar. Kadang
begitu cepat dan terkadang begitu santai memutar kehidupan yang sempit ini. Aku
tak tahu menahu tentang apa yang dikatakan pada Fathiya waktu itu. Yang aku
tahu hanyalah lewat pesan singkat yang dikirimkan Yusrul, ia menyalahkan diriku
dan sebaliknya Fathiya tidak tahu apa-apa tentang status itu.
“Kenapa Fathiya tega sekali memfitnahku?
Padahal jelas-jelas dia yang menuliskan kalimat itu? Aku tak tahu iblis apa
yang sudah merasuki jiwa Fathiya,” hatiku begitu tersayat. Tak hentinya mataku melelehkan
airmata. Airmataku semakin deras ketika bayangan-bayangan bersama Fathiya
semasa SMP yang selalu membuat diriku terpingkal itu menggelayut dalam benak.
Entah apa yang ada dalam otakku sehingga
angin yang berhamburan itu membawa diri sampai di rumah Fathiya yang sederhana
itu. Demi membuktikan kebenaran, entah dapat bisikan dari mana sehingga tangan
kananku melayang ke arah pipi Fathiya. Aku tak peduli jika orang-orang yang
menyaksikan menyalahkan diriku,
“Fathiya!
Kamu jadi orang nggak usah membalikkan fakta! Dan nggak usah terlalu mikir
EGO!” ucapku tegas sambil melelehkan airmata.
“Maksutmu
apa?” tanya inayah.
“Fath,
lebih baik persahabatan kita cukup sampai disini.”jawabku dengan jawaban yang
tak pasti membuat aku menundukkan kepala, airmataku semakin deras. Tak mampu
menahan luka yang menganga dalam dada.
“Kamu
ngomong apa tho?” tanya inayah kembali penuh keheranan.
“Jadi
orang tuh jangan lari dari masalah. Dari malem sampai saat ini aku rela
bertengkar dengan Yusrul demi membelamu.
Tapi apa balasanmu ke aku? Berfikir secara dewasa biar nantinya nggak seperti
ini. Selama ini aku sudah sabar menghadapi sifatmu yang kekanak-kanakkan.
Tapi jangan keterlaluan seperti ini. Apakah itu yang dinamakan seorang sahabat forever?”
ujarku masih dalam linangan airmata
“Bukannya
gitu sifatku emang gini masih kekanak-kanakkan. Aku jadi orang juga nggak
terlalu mikirin EGOku sendiri. Aku tahu, aku hidup nggak sendiri makanya aku
tergantung sama orang lain. Ya apa enggak?” kata inayah dengan hati yang galau.
Matanya yang sipit, tak mampu lagi menahan bendungan air yang keluar dari
matanya itu.
“Aku
tahu tapi kamu itu bukan SMP lagi tapi udah SMA, jadi kamu harus berusaha untuk
merubah itu semua. Selama itu pula aku
udah berusaha menuruti semua keinginanmu. Aku berusaha menjadi seorang sahabat
yang terbaik buatmu. Aku juga nggak pernah menulis kata-kata di akun FBnya
Yusrul!”
“Aku
dapat berubah juga, aku dapat masukan dari orang lain. Yang menilai sifatku bukan
diriku sendiri melainkan orang lain. Bajal tah nek mbok nalar.”
“Tetapi
disetiap kamu aku nasehati, selalu kamu bantah. Nggak pernah kamu dengerin! Bagaimana
caranya kamu dapat berubah kalau setiap kritik yang masuk selalu kamu bantah! aku
udah nggak tahan lagi dengan sifatmu lebih baik kita PUTUS!!!! PUTUS SELAMANYA!!! Biar kamu sadar apa itu arti
persahabatan yang sesungguhnya!!” ucapku memejamkan mata seraya membalikkan
tubuh dari hadapan Fathiya.
“Kalau
itu maumu, aku terima. Semoga kamu dapat menemukan sahabat yang lebih baik dariku.
Maaf jika aku udah buat kamu sakit hati.”
Mungkin setelah aku memberikan keputusan
yang tak pasti, Fathiya merasakan luka batin yang sama denganku. Mungkin saja
dia menangis. Aku tak tahu, sebab waktu itu aku langsung menghilang dari
hadapan Fathiya. Aku juga tidak peduli dia menangis atau tidak, sebab dia sudah
menghianti persahabatan yang telah aku bangun selama empat tahun.
Begitu berat aku jalani, dengan terpaksa aku
memutuskan persahabatan ini. Aku tak tahu jalan apa yang harus ku tempuh agar Yusrul
tidak menyalahkanku. Air yang keluar dari mata, telah menjadi saksi bisu
perpisahan diantara kita. Dan halaman rumah Fathiya yang sederhana itu pun
menjadi saksi, tak luput langit bumi bersaksi penderitaan yang aku alami.
Satu bulan berlalu, bayangan kenangan
indah bersama inayah membuatku ingat akan hal itu. Satu bulan itu pula telah
aku jalani tanpa kehadiran seorang sahabat. Selama satu bulan itupun, di
tidurku yang lelap. Bayangan tak nyata telah datang menghampiri, merajut kasih
pershabatan bersama inayah.
17 Agustus 2011, usai memperingati
upacara kemerdekaan RI yang ke 67 aku mengajak salah seorang teman sekelasku
pergi ke lapangan upacara di Undaan Kidul.
Namun, temanku tersebut tidak mau. Lantas aku pulang sendrian dengan tangan
kosong. Hembusan angin dari arah timur, barat dan utara telah membawa diriku
sampai di lapangan tersebut.
Aku menyaksikan Detik-Detik Proklamasi
yang dibacakan oleh Pembina Upacara. Aku berada di tempat itu sendirian dan
kesepian. Di atas tanggul yang membatasi wilayah antara Kudus-Demak
kulihat pelajar-pelajar Undaan berjejer rapi. Aku merasa asing. Matahari yang
sudah sampai diatas kepala telah membuat jaket yang aku kenakan untuk menutupi
kepala.
Tidak lama kemudian, upacara yang
dihadiri oleh seluruh siswa sekolah di Undaan Kidul usai. Kebingungan
mencari teman yang sekolah di situ pula. Tetapi dari arah barat, mataku
menangkap ada seorang gadis berseragam putih. Lengkap dengan jilbabnya datang
menghampiriku. Semakin lama mataku menangkap gadis itu dengan jelas.
Mulanya aku mengira dia adalah orang lain.
Tenyata Fathiya si gadis manja,
“Heh Ris, kamu ngapain di sini?” tanya Fathiya.
Seakan kulihat rautnya tak ada beban yang mengelabui pikiran.
“Eh Fath, maksutmu tuh apa kamu gitu!
Aku nggak rela kamu ngomong gitu sama Yusrul!” jawabku dengan nada sedikit
tinggi.
“Lho Ris, waktu itu aku takut banget Yusrul
dan Asrofi datang ke rumahku. Ya sudah nggak usah di perpanjang lagi. Aku minta
maaf.” Ucap Fathiya sambil cengar-cengir.
“Ya sudah, aku maafin. Tapi kalau kamu
ulangi sekali lagi, aku nggak akan maafin kamu. lagian ini juga bulan puasa.” Ujarku
dengan balasan senyuman tipis.
Kita akhirnya pun berpelukkan dengan
senyum bahagia. Orang mulai berbondong-bondong meninggalkan lapangan tersebut.
Fathiya yang tak mempunyai kendaraan, aku pun sebagai sahabat mengantarkan ia
pulang penuh canda tawa. Selama satu bulan lebih, akhirnya aku mendapatkan
keajaiban tersebut yaitu kembali bersahabat dengan Fathiya.
Bukan cuma itu, Yusrul dan mantan
kekasihnya telah meminta maaf padaku. Semua dapat kembali dengan normal. Tetapi
rasa kesalku terhadap Fathiya, tak akan pernah pudar hingga dewasa nanti. Yang
terpenting adalah aku dan Fathiya hari ini, esok dan selamanya akan selalu
menjadi sahabat.
Aku dan Inayah kembali mencurahkan
segala isi hati di atas ranjang kamarnya. Di dalam rumah istananya yang
sederhana itu kita bercanda dengan tawa penuh canda. Sesekali aku keluar,
menuju halaman depan rumah Fathiya. Kuambil potongan-potongan sayap hitam yang
masih berada dalam kantong plastik itu. Kubuka, lalu kuterapkan potongan-potongan
itu di selembar kertas kosong menggunakan lem kertas. Selesai menerapkan
potongan-potongan itu, kupandangi potongan sayap hitam yang sudah menempel pada
kertas.
“Seperti menempelkan puzle saja,”
kutersenyum bahagia melihat potongan sayap yang berwarna hitam itu pun kembali
menyatu dengan potongan lainnya. Dalam benak kuberkata, “Sayap-sayap putih yang
terkena tinta hitam dan akhirnya menjadi sayap hitam itu pun kini telah menyatu
dengan potongan yang lain. Seperti aku dan Fathiya, kini telah menyatu dalam ikatan
jiwa yang menjadi best friend forever,”
Kukembali ke kamar Inayah, kulihat ia
sedang asyik bermain. Kuserahkan kertas yang berhiaskan sayap hitam itu. Ia
hanya mengembangkan senyum, aku pun membalas senyumannya yang kian bersinar.
Menyinari kertas yang berhias sayap hitam, meskipun sayap itu hitam kini
semakin bersinar terkena percikan senyuman di antara sahabat seperti kita, aku
dan Fathiya untuk selamanya.
Walau sebesar apa pun bentuk lubang
kehitaman yang diberikan oleh Sang Illahi Robbi, Insya Allah aku akan
menjaga persahabatan ini sampai akhir zaman. Aku hanya dapat menunggu harapan
agar Fathiya bisa berfikir secara dewasa dan bisa merubah sikapnya yang manja.
Aku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa. Berdoa agar aku tidak seperti sayap
hitam. Sayap putih yang berubah menjadi hitam karena ulah tangan seseorang.
Karena kesalahan yang dibuat oleh tangan orang-orang zalim. Senantiasa ingin
menghancurkan kebaikan umat Baginda Nabi di dunia, di alam semesta ini. Na’udzubillahimindzalika.
Semoga Allah menerangkan jalan bagi mereka.
Kudus, 21/02/12
(8 Mulud 1433 H)
NB : Pernah di Muat
Di Media Annida Online
Tidak ada komentar:
Posting Komentar