Senin, 18 Juni 2012

Perkataan Membawa Malapetaka


17/04/2011
Perkataan Membawa Malapetaka
Hari ini adalah hari pertama sekolah. Mentari dari ufuk timur mulai bersinar. Terdengar suara kendaraan mulai rame. Orang yang bekerja mulai terlihat. Suara gemericik terdengar merdu dari arah timur ternyata suara tersebut berasal dari orang menyiram tanaman.
Disepanjang jalan, nampak semua orang bergembira. Senyuman-senyuman mulai mengembang, menyapa kesana sini. Tet...Tet...Tet...Tet... Bel berbunyi begitu sampai sekolah jam 07.00 wib. Seluruh siswi kembali ke kelas masing-masing.
Jam pelajaran dimulai sangat menyenangkan. Sekolah ini dekat dengan tempat penjualan berbagai jenis barang dan diapit oleh sebuah sawah luas serta pemandangan luar biasa. Disaat pelajaran dimulai, seluruh siswi memperhatikan mata pelajaran dengan serius tetapi agak santai. Diawali dari tiga gadis remaja Nirwana, Fathiya, dan Risma.
Nirwana, gadis  berjilbab yang jarang berbicara. Fathiya, dengan rambut satu ikat di kepala. Risma, rambutnya lebih suka ia gerai. Menurutnya, rambut yang di gerai lebih manis daripada di ikat.
Mereka dikenal oleh seluruh sekolah. Sebab, kecentilan dan kebaikan, mereka dikenal baik. Tetapi, kala ulangan harian tiba Fathiya dan Risma bekerjasama. Namun jika Fathiya dan Risma meminta jawaban kepada Nirwana, tidak pernah diberikan.
Hari berlari menuju hari selanjutnya, dan bulan berlari menuju bulan sebelum Ujian Nasional. Suka duka cita dan derita telah mereka jalani. Hingga ibu bapak Guru heran pada mereka. Sebab kedekatan mereka layaknya saudara sekandung.
Di hari Minggu Fathiya dan Nirwana menemui Risma. Ternyata sesampainya Risma tidak ada. Risma pergi bersama Dewi ke tempat kekasihnya. Dengan segera Nirwana menghubungi Risma untuk kembali, namun Risma tidak ingin kembali pulang dengan alasan Risma dan Dewi pergi melayat di rumah kekasihnya.
Risma juga dihubungi oleh kakaknya bernama Deni namun masih tidak bisa. Akhirnya Risma meninggalkan rumah kekasihnya. Sesampai di rumah Risma tidak melihat mereka. Ternyata mereka sudah pulang terlebih dahulu. Pesona kecantikan Nirwana, membuat hati Deni luluh.
“Ris, sepertinya aku telah menaruh hati pada temanmu Nirwana,” kata Deni sambil meletakkan handphone di atas TV. Risma hanya berdiam diri mendengar perkataan Deni. Dengan kebaikan hati Risma, akhirnya cinta mereka menyatu.
Deni, kakak Risma. Mempunyai paras tampan nan rupawan dengan badan tegap layaknya ksatria. Hingga akhirnya membuat Nirwana menerima cinta Deni. Menerima dengan ketulusan hati.
Setiap hari Minggu Nirwana dan Fathiya bermain ke tempat Risma. Karena disitu Nirwana dapat bertemu dengan Deni. Fathiya dan Risma hanya menyaksikan kemesraan mereka. Fathiya yang keras kepala tidak tahan dengan kemesraan mereka.
Setiap hari di sekolah, Risma dan Fathiya selalu memojokkan Nirwana. Sebab kedua sahabat itu tidak sengaja menyaksikan Deni dan Nirwana melakukan tindakan tidak wajar.
“Ih, naudzubillahi min dzalik! Dalam islam ‘kan melarang kita yang namanya P-A-C-A-R-A-N! Apalagi kita ini masih SMP! Benar nggak Ris,” kata Fathiya.
“Benar banget tuh sob,” ucap Risma sambil mengacungkan jempol kanannya.
Nirwana yang mendengar perkataan itu, menjadi sedih. Hingga setiap kali Nirwana bertemu dengan Deni kala ke rumah Risma, Nirwana bersikap dingin pada Deni.
Tiga bulan berlalu, Nirwana  sengaja berselingkuh dengan tetangganya.
“Kak, tadi Nirwana bercerita ke aku kalau dia selingkuh sama tetangganya,” kata Risma kala pulang sekolah sambil meletakkan tas cangklongnya. Hati Deni menjadi hancur berkeping-keping telah disakiti oleh gadis lembut bernama Nirwana.
Keesokkan harinya Nirwana dan Fathiya menemui Deni di hari Minggu  pukul 10.00 wib. Kala itu Nirwana memakai jaket pink dengan rambut panjangnya diikat menjadi satu.
“Yang pakai jaket warna pink nggak lulus!” Perkataan itu sengaja Deni lontarkan dengan perasaan hancur penuh kekecewaan. Perkataan itu disaksikan oleh Risma dan Fathiya. Mereka berdua hanya tertudun setelah Deni melontarkan perkataan yang tak semestinya di ucapkan. Setelah Deni mengatakannya, badai mengguncang hati Nirwana. Suasanapun menjadi senyap seketika.
Tiga hari sebelum Ujian Nasional, istighosah dilaksanakan terlebih dahulu. Saat Ujian Nasional hari pertama paket soal belum dibagikan Fathiya, Risma, dan Nirwana membuat sebuah perjanjian.
“Siapa diantara salah satu dari kita yang pelit memberikan jawaban paket soal atau jawaban paket soal itu benar tapi disalahkan maka nggak akan lulus. Kalian setuju?” ucap Fathiya dengan raut tegang.
“Setuju banget, iya benar banget tuh. Nih Fath, biasanya Nirwana yang pelit banget kalau ada soal ulangan gini. Apalagi ini ‘kan Ujian, tau deh!” jawab Risma sambil menunjuk Nirwana.
“Iya aku emang pelit tapi kalau paket soal aku janji nggak akan pelit,” sahut Nirwana dengan raut wajah penuh beban pikiran.
“Alah paling juga kamu bohong. Iya nggak ris?!” ujar Fathiya.
“Bener banget tuh! Makanya jadi orang tuh jangan pelit. Dasar egois!” ucap Risma.
“Nggak ah...aku nggak egois ah... Fathiya gitu kok!” celetuk Nirwana.
Bel berbunyi, paket soal akhirnya dibagikan. Sebelum mengerjakan paket soal, seluruh siswi berdoa kepada Sang Kuasa agar dipermudahkan mengerjakan paket soal. Tidak lupa ketua kelas telah membuat taktik kerjasama antar paket. Alhamdulilah, Fathiya dan Risma satu ruangan, mereka pun mudah untuk saling bekerjasama.
Tapi lain dengan Nirwana, ia berada di ruang sebelah. Risma dan fathiya merasa iba dengan Nirwana. Sebab di ruangan tersebut Nirwana tidak ada teman dekat. Hanya Risma dan Fathiya teman dekat Nirwana.
Empat hari usai mengerjakan paket soal Ujian Nasional, Fathiya dan Risma mendapat berita dari Siti,
“Eh Ris, Fath, kalian tahu nggak? Kemarin saat ngerjain paket soal Nirwana satu ruangan denganku. Tapi waktu itu dia pelit nggak mau kerjasama. Hanya dua kali dalam empat hari dia ngasih jawaban paket soal. Egois....! padahal menjelang Ujian Nasional pak Bayu sudah berpesan kalau saat Ujian Nasional pelit nggak akan lulus,” kata Siti.
“Udah biarin aja, dia tuh emang udah pelit dari kecil jadi nggak usah heran,” sahut Hartatik sedari kantin.
Satu bulan berlalu, waktu berjalan tiada henti. Pengumuman kelulusan tiba. Pengumuman tersebut yang mengambil adalah orangtua murid. Hati seluruh siswa menjadi dag...dig...dug...
Alhamdullilah Yaallah... akhirnya lulus...!”
Dengan senangnya siswa yang mendapatkan kelulusan. Salah satu diantara seluruh siswa yang lulus, Risma dan Fathiya juga merasakan kebahagiaan itu. Sebab Risma dan Fathiya telah lulus. Tidak lupa kedua sahabat itu bersujud syukur.
Setelah pengambilan surat pernyataan selesai, Risma dan Fathiya pulang ke rumah. Fathiya yang sedang gembira berkunjung ke rumah Nirwana. Sesampainya mereka berbincang. Ditengah perbincangan saat Fathiya bertanya kepada Nirwana, suasana yang tadinya menyenangkan berubah menjadi histeria.
“Nir, kamu lulus?” tanya Fathiya.
“Fath...Fathiya...aku nggak lulus,” Nirwana menjawabnya dengan lelehan airmata. Fathiya pun tercengang dengan jawaban Nirwana.
“Ya sudah kamu sabar aja. Ya sudah Nir jangan nangis, kita ‘kan sahabat.” hibur Fathiya.
“Lebih baik aku mati aja daripada aku hidup begini.” ucap Nirwana sambil mengambil pisau dari atas laci TV. Ia lalu hampir menggoreskan pisau di urat nadinya.
“Udahlah Nir aku mohon jangan..! Dosa! Meskipun kamu nggak lulus kamu masih bisa nglanjutin sekolah kok!” larang Fathiya sambil memegang tangan kanan Nirwana.
“Tapi aku ingin sekolah di SMA NU Al-Ma’ruf, apa bisa?” tanya Nirwana sambil menjatuhkan pisau dapur.
“Aku nggak tahu lah Nir, kamu coba saja.” jawab Fathiya.
Hari Minggu kemudian Risma bermain ke tempat Fathiya. Disana mereka bercerita. Sampai akhirnya Fathiya bercerita tentang Nirwana yang mencoba bunuh diri. Ia mencoba bunuh diri karena Nirwana tidak lulus.
Risma tercengang begitu mendengar kabar tersebut. Beberapa  menit kemudian mereka ke tempat Nirwana. Sesampainya, Nirwana mengepel lantai ruang tamu. Kala Risma bertanya pada Nirwana tentang kelulusan, ia melelehkan airmata yang membasahi pipi. Sampai akhirnya ibunya sempat menjatuhkan airmata melihat anaknya frustasi karena tidak lulus. Diantara mereka bertiga Nirwana ibarat kepompong yang belum berubah menjadi kupu-kupu. Karena Nirwana adalah seorang sahabat yang baru mereka kenal. Nirwana adalah seorang sahabat yang hidup ditengah persahabatan diantara Risma dan Fathiya.
Karena Risma dan Fathiya menjalin hubungan persahabatan sejak duduk di bangku kelas 7.
Ternyata benar, perkataan kakak menjadi kenyataan.” bisik hati kecil Risma dengan perasaan sedih.
“Padahal aku nggak mengingkari janji kita, tapi kenapa aku nggak lulus. Apa karena aku udah nyakitin Deni? Pasti karena perkataan Kakakmu, Ris,” ucap Nirwana mengeluarkan air mata.
“Kamu yang sabar ya Nir. Semoga Allah mengampuni dosa Kakakku,” ujar Risma.
Setelah mereka mengobrol sejenak, Risma dan Fathiya pulang ke rumah.
“Kak, kenapa sih Kakak tega ngedoain Nirwana? Dia tuh nggak lulus beneran. dia tuh sampai ingin bunuh diri!”
“Salah sendiri Dia menduakan aku. Kalau saja Dia nggak selingkuh, aku nggak akan berkata seperti itu!” ujar Deni.
“Huh! Jahat banget sih kamu Kak,” kata Risma sambil meninggalkan Deni sendiri menuju kamar Risma.
Dua bulan kemudian pendaftaran sekolah menengah atas dibuka. Dalam sebuah pengajian yang diisi oleh Habib Luthfi, di rumah sebelah Nirwana, ia bertemu dengan kekasihnya.
“Gus, aku ingin sekolah di SMA NU Al-Ma’ruf tapi aku nggak lulus!” kata Nirwana tertudun.
“Sudah jangan sedih, mending melanjutkan sekolah sama aku saja di MA NU Assalam,” hibur Agus, kekasih Nirwana.
Nirwana si gadis berjilbab melanjutkan sekolahnya di MA NU Assalam (jembatan bakinah ke barat) bersama Kekasihnya yang baru. Maka, usai sudah penderitaan Nirwana. Sedangkan Fathiya si gadis kecil, centil, imut dan manja karena nilai Ujiannya minim, melanjutkan sekolah swasta di Medini (maaf nama sekolah dirahasiakan). Terakhir Risma si gadis crewet, meskipun lulus tapi nilai Ujiannya minim maka melanjutkan sekolah di sebuah SMA swasta berada jauh dengan jarak rumahnya (maaf nama sekolah dirahasiakan). Beberapa bulan berlalu. Mereka melanjutkan hidup bersama teman yang baru.
Suatu ketika Risma menyusuri jalan dikeramaian kota. Tidak sengaja sepintas, Risma bertemu Nirwana.
“Nir...! Nirwana...! Kamu mau kemana....?!” tanya Risma berteriak sambil mengayuh sepeda, tapi Nirwana bersikap dingin dengan pertanyaan risma. Ia seolah tak mendengar perkataan Risma.
Risma kembali memutar sepeda menuju rumahnya.
“Kak Deni, tadi aku bertemu sama Nirwana tapi ia tak sapa nggak menoleh sedikit pun ke arahku. Aku takut Nirwana masih menyimpan luka atas apa yang dialaminya. Aku ingin kakak menemuinya dan minta maaf,” ujar Risma. Entah ada angin apa, tiba-tiba perasaan Deni luluh. Dinyalakan kendaraan roda dua milik Deni.
“Ayo naik! Kita ke rumah Nirwana,” ucap Deni segera.
Ditemui si gadis berjilbab itu, bersama Deni kakak Risma. Deni pun meminta maaf kepada Nirwana karena perkataan Deni membuat masa depan Nirwana hancur. Karena kepribadian Nirwana yang lembut nan anggun, memaafkan segala kesalahan Deni. Tak pernah mengungkit kenangan pahit bersama Deni. Dibalik kepribadian nirwana yang lembut, ia adalah gadis egois. Permintaan maaf Deni tak akan pernah merubah kesunyian hati Nirwana.****

NB : Pernah di muat di
Media Annida Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar