#Sepotong
Kado Rindu
Membawa rantang berisi
nasi dan lauk pauk. Menggendong bayi di tangan kanannya. Berjalan
menyusuri jalan diatas lumpur yang basah. Mengenakan alas kaki
sederhana.
Dibawah panas terik
matahari. Masih berjalan menuju ladang tempat ayah bekerja. Berjalan
mundur demi membuat tanah menjadi mudah ditanami.
“ayah...ayah...ini
aku bawakan makanan untuk ayah..!” Seru Lasmini. Wanita muda yang
sudah menikah dengan handoko dua tahun lamanya, baru memiliki anak
lelaki berumur satu tahun bernama angga.
Suatu ketika angga
menginjak usia remaja, enam belas tahun. Mengenakan baju koko,
dihiasi peci di kepala, lengkap dengan sarung kebanggaannya. Langit
menjadi hitam, bintang dan rembulan menampakkan cahyanya. Di temuinya
para jama’ah di Masjid dekat rumahnya.
Memanjatkan doa dan
dzikir serta membaca ayat suci Al-Qur’an. Suara merdunya
menggetarkan hati jama’ah perempuan. Salah satunya ana, gadis
berjilbab terkesan indah mendengar lantunan suara merdu angga.
Menghiasi wajah manisnya, angga selalu tersenyum bila ada orang yang
menyapa.
“lho,
sendalku dimana ?” Usai dari pengajian ana kebingungan mencari
salah satu sendal milikknya.
“ada
yang bisa aku bantu ?” Tanya angga sambil memberikan sepasang
sendal milik ana.
“iya.
Makasih ya..” Jawab ana tersipu.
Berjalan meninggalkan
tempat pengajian tersebut. Dengan rasa bangga angga terbayang wajah
rembulan ana. Bersinar seri menatap birunya langit malam. Begitu
dengan ana, si gadis lemah lembut yang berjilbab.
Dengan rentangnya waktu,
angga dan ana akhirnya menjalin hubungan persahabatan. Handoko,
ayahnya melihat anak yang kini tumbuh semakin dewasa. Memberikan
sepotong nasihat untuk angga.
“nak,
janganlah kamu menyakiti hati wanita. Karena surga ada di telapak
kaki ibu.” Kata ayah.
“baik
yah, angga akan selalu ingat nasihat ayah.” Ujar angga.
Diingatnya akan nasihat
yang diberikan handoko, ayah angga. Hingga maut menjemput nyawa sang
ayah. Begitu dalam kesedihan yang dirasakan ibu dan anak tersebut.
Cobaan yang diberikan oleh Tuhan membuat lasmini bekerja serabutan
demi mencukupi sekolah angga.
Angga yang melihat ibunya
bekerja keras tak kuasa menahan air mata. Mencurahkan segala isi
hatinya kepada sang Illahi. Bersama ana, angga melampiaskan segala
kesedihan ke dalam diri ana. Ingin menjadikan ana sebagai seorang
kekasih angga.
Dengan perasaan bimbang,
bisikan kata yang tak pasti terdengar di telinga ana. Angga mempunyai
seorang kekasih, selain ana. Rasa sayang angga yang diungkapkan
melalui bahasa tubuh membuat ana menjadi hancur. Derai air mata
menyelimuti wajah angga dan ana.
Lasmini melihat kesedihan
yang dialami angga, membuat jatuh sakit. Panjatan doa serta bacaan
Yaasiin tak pernah berhenti ia ucapkan. Selagi nafas masih ada.
Kebingungan serta kesedihan yang dialami angga, membuat angga harus
berhenti menimba ilmu.
Usaha angga selalu tak
berhasil kala mencari kerja dan pengobatan. Kini ibu yang ia cintai
terbaring lemah dan tak berdaya diatas ranjang. Tak dapat melakukan
segala aktivitas. Angga selalu setia menemani ibunya.
Tertidur dengan balutan
tangan ia dekap di wajah, disamping ibunya.
“nak
maafkan ibu, sekolahmu terhenti karena ibu tak dapat melakukan
apapun.” Kata ibu lasmini.
“tidak
ibu, ini semua karena angga. Angga menyesal. Andai saja waktu itu
angga tidak menyakiti ana, pasti ibu tak akan seperti ini.” Ujar
angga. Terbayang sosok ana yang begitu santun.
Ashadu’ala
ilahailallah..... Itulah ucapan terakhir lasmini sebelum nyawa sampai
di tenggorokan. Berteriak memanggil nama ibu. Angga, anak tunggal
dari lasmini dan handoko hanya duduk berdiam diri. Pandangan wajah
kesedihan menatap makam kedua orangtuanya.
22 Desember 2011 adalah
hari yang angga rindukan bersama kedua orangtuanya, terutama ibunya.
Dimana kenangan indah bersama sang ibu semasa hidup beliau. Setiap
hari Ibu, angga selalu mendatangi makam basah dengan taburan bunga
yang masih segar. Di hari ibu, angga tak dapat memberikan hadiah
berupa barang kepada ibunya.
Hanya panjatan doa yang
dapat ia berikan. Angga berdoa dengan beban kerinduan di hati. Puisi
untuk ibu, lagu rindu untuk ibu dan doa untuk ibu. Meskipun angga tak
dapat memuluk ibu dan ayahnya.
Tetapi gambaran buku biru
yang mengisahkan kenangan indah, perjuangan serta pengorbanan akan
tetap terlukis abadi di hati angga. Ana, si gadis berjilbab datang
menghampiri angga di teras rumah. Menghibur kepedihan angga yang
sendiri tanpa adanya orangtua. Membuat angga memeluk mesra diri
ana.****
22/12/2011
#merayakan indahnya hari
ibu. Melihat ibu yang kita cintai berjuang melahirkan kita ke dunia.
Penuh perjuangan antara hidup dan mati. Kasih dan cinta kita kepada
ibu tak pernah terhapuskan walau akhir zaman nanti.#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar