Rabu, 13 Juni 2012

Sepotong Kado


#Sepotong Kado Rindu
Membawa rantang berisi nasi dan lauk pauk. Menggendong bayi di tangan kanannya. Berjalan menyusuri jalan diatas lumpur yang basah. Mengenakan alas kaki sederhana.
Dibawah panas terik matahari. Masih berjalan menuju ladang tempat ayah bekerja. Berjalan mundur demi membuat tanah menjadi mudah ditanami.
“ayah...ayah...ini aku bawakan makanan untuk ayah..!” Seru Lasmini. Wanita muda yang sudah menikah dengan handoko dua tahun lamanya, baru memiliki anak lelaki berumur satu tahun bernama angga.
Suatu ketika angga menginjak usia remaja, enam belas tahun. Mengenakan baju koko, dihiasi peci di kepala, lengkap dengan sarung kebanggaannya. Langit menjadi hitam, bintang dan rembulan menampakkan cahyanya. Di temuinya para jama’ah di Masjid dekat rumahnya.
Memanjatkan doa dan dzikir serta membaca ayat suci Al-Qur’an. Suara merdunya menggetarkan hati jama’ah perempuan. Salah satunya ana, gadis berjilbab terkesan indah mendengar lantunan suara merdu angga. Menghiasi wajah manisnya, angga selalu tersenyum bila ada orang yang menyapa.
“lho, sendalku dimana ?” Usai dari pengajian ana kebingungan mencari salah satu sendal milikknya.
“ada yang bisa aku bantu ?” Tanya angga sambil memberikan sepasang sendal milik ana.
“iya. Makasih ya..” Jawab ana tersipu.
Berjalan meninggalkan tempat pengajian tersebut. Dengan rasa bangga angga terbayang wajah rembulan ana. Bersinar seri menatap birunya langit malam. Begitu dengan ana, si gadis lemah lembut yang berjilbab.
Dengan rentangnya waktu, angga dan ana akhirnya menjalin hubungan persahabatan. Handoko, ayahnya melihat anak yang kini tumbuh semakin dewasa. Memberikan sepotong nasihat untuk angga.
“nak, janganlah kamu menyakiti hati wanita. Karena surga ada di telapak kaki ibu.” Kata ayah.
“baik yah, angga akan selalu ingat nasihat ayah.” Ujar angga.
Diingatnya akan nasihat yang diberikan handoko, ayah angga. Hingga maut menjemput nyawa sang ayah. Begitu dalam kesedihan yang dirasakan ibu dan anak tersebut. Cobaan yang diberikan oleh Tuhan membuat lasmini bekerja serabutan demi mencukupi sekolah angga.
Angga yang melihat ibunya bekerja keras tak kuasa menahan air mata. Mencurahkan segala isi hatinya kepada sang Illahi. Bersama ana, angga melampiaskan segala kesedihan ke dalam diri ana. Ingin menjadikan ana sebagai seorang kekasih angga.
Dengan perasaan bimbang, bisikan kata yang tak pasti terdengar di telinga ana. Angga mempunyai seorang kekasih, selain ana. Rasa sayang angga yang diungkapkan melalui bahasa tubuh membuat ana menjadi hancur. Derai air mata menyelimuti wajah angga dan ana.
Lasmini melihat kesedihan yang dialami angga, membuat jatuh sakit. Panjatan doa serta bacaan Yaasiin tak pernah berhenti ia ucapkan. Selagi nafas masih ada. Kebingungan serta kesedihan yang dialami angga, membuat angga harus berhenti menimba ilmu.
Usaha angga selalu tak berhasil kala mencari kerja dan pengobatan. Kini ibu yang ia cintai terbaring lemah dan tak berdaya diatas ranjang. Tak dapat melakukan segala aktivitas. Angga selalu setia menemani ibunya.
Tertidur dengan balutan tangan ia dekap di wajah, disamping ibunya.
“nak maafkan ibu, sekolahmu terhenti karena ibu tak dapat melakukan apapun.” Kata ibu lasmini.
“tidak ibu, ini semua karena angga. Angga menyesal. Andai saja waktu itu angga tidak menyakiti ana, pasti ibu tak akan seperti ini.” Ujar angga. Terbayang sosok ana yang begitu santun.
Ashadu’ala ilahailallah..... Itulah ucapan terakhir lasmini sebelum nyawa sampai di tenggorokan. Berteriak memanggil nama ibu. Angga, anak tunggal dari lasmini dan handoko hanya duduk berdiam diri. Pandangan wajah kesedihan menatap makam kedua orangtuanya.
22 Desember 2011 adalah hari yang angga rindukan bersama kedua orangtuanya, terutama ibunya. Dimana kenangan indah bersama sang ibu semasa hidup beliau. Setiap hari Ibu, angga selalu mendatangi makam basah dengan taburan bunga yang masih segar. Di hari ibu, angga tak dapat memberikan hadiah berupa barang kepada ibunya.
Hanya panjatan doa yang dapat ia berikan. Angga berdoa dengan beban kerinduan di hati. Puisi untuk ibu, lagu rindu untuk ibu dan doa untuk ibu. Meskipun angga tak dapat memuluk ibu dan ayahnya.
Tetapi gambaran buku biru yang mengisahkan kenangan indah, perjuangan serta pengorbanan akan tetap terlukis abadi di hati angga. Ana, si gadis berjilbab datang menghampiri angga di teras rumah. Menghibur kepedihan angga yang sendiri tanpa adanya orangtua. Membuat angga memeluk mesra diri ana.****


22/12/2011
#merayakan indahnya hari ibu. Melihat ibu yang kita cintai berjuang melahirkan kita ke dunia. Penuh perjuangan antara hidup dan mati. Kasih dan cinta kita kepada ibu tak pernah terhapuskan walau akhir zaman nanti.#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar