Jumat, 02 Desember 2011

cerpen (dinda pelipuir lara)


                                                                     Dinda Pelipur Lara
Gadis kecil mengenakan gaun putih, lengkap dengan mahkota di kepala. Gadis kecil berparas Indo-Australia selalu berdiam diri semenjak kematian menghampiri bunda.  Gadis kecil bernama Dinda duduk di kelas 2  SMP. Dengan prestasi membanggakan.
Ayahnya bernama Wijaya Kusuma seorang Direktur utama di sebuah PT Anugrah Jaya. Sosok ayah yang dibanggakan oleh setiap anak di dunia. Namun tidak dengan Dinda gadis kecil nan imut. Di mata dinda, ayahnya tak lebih dari seorang ayah.
Hanya pekerjaan yang diutamakan. Dikala dinda sedang menangis, ayah selalu memalingkan kepala. Berangkat matahari dari timur, pulang bersama cahaya dan bintang. Dinda pun tak pernah mendapat kasih sayang.
Dinda awalnya pendiam, berubah seketika bergaul dengan lelaki bernama dawam. Seorang lelaki pecandu sex narkotika. Berumur anak sekolah menengah atas. Dinda yang mulanya berpenampilan anggun, berubah menjadi anak berpenampilan punk-rock.
Dinda di kenalkan dawam pada dunia hitam. Semakin dinda terjerumus, semakin senang perasaan dinda mengenal dunia tersebut. Ayahnya, semakin lama melihat sikap dinda semakin menjadi. Maka, di tegur lah dinda.
Dinda semakin memberontak setiap di tegur oleh wijaya kusuma, ayahnya. Di genggamnya ponsel milik dinda. Memencet nomer demi nomer menghubungi dawam, kekasihnya. Terdengar suara dawam, ponsel di tangan dinda di rebut oleh ayahnya kemudian di jatuhkan ke lantai.
“ayah..! apa maksud ayah merebut ponsel milikku!” Kata dinda dengan suara lantang.
“jangan lagi berhubungan dengan lelaki bernama dawam!” Bentak ayah.
“ayah nggak pernah meduli’in dinda. Semenjak kematian bunda, ayah selalu sibuk..sibuk...dan sibuk.!” Sahut dinda penuh aliran air mata.
“maafkan ayah nak, ayah tidak tahu jika kamu membutuhkan kasih sayang dari ayah.” Ayah mencoba meminta maaf dengan pelukan kehangatan. Namun, dilepaskan pelukan tersebut, lari meninggalkan segala rumah berlantai tiga itu.
Ayah tak dapat melarang dinda menjauh. Tangan ayah pun ia dekap di dada. Rasa sakit yang menggema membuat ransel dinda terjatuh.
“ayah....! Ayah....!! bangun ayah, ayah jangan tinggalin dinda...!” memanggil nama ayah penuh tangisan histeris.
“dinda, jangan pergi ninggalin ayah sendiri. Ayah sayang dinda. Maafkan ayah, dinda anakku sayang.” Ucapan terakhir ayah kepada dinda.
“tidak........!! ayah... dinda juga sayang ayah.. maafin dinda juga ayah...”
“sudahlah non, ikhlaskan tuan pergi.” Kata salah satu pembantu di rumah dinda.
Menjelang dua hari kepergian ayahnya, para  pegawai yang bekerja di rumah dinda, meminta pesangon yang ada. Dinda pun sudah tak memiliki apapun. Karena harta bendanya telah ia sumbangkan ke yayasan Kasih Bunda. Sekolahnya pun terhenti karena tak ada yang membiayai.
Dinda  pun hidup serba kekurangan bersama tantenya di desa. Bertemu anak desa bernama na’im. Berumur 14 tahun. Jauh dari keramaian kota, terbatasnya sarana dan prasarana.
Anak bernama na’im selalu mengajarkan dinda tentang kesederhanaan. Semakin lama dinda pun terbiasa hidup dengan indahnya alam pedesaan. Bermain air di tepi sungai, mencari ikan bersama, meniup seruling bambu di tengan padang rerumputan. Bersama hewan peliharaan na’im bernama bejo(kambing).
Dinda pun mengisi harinya penuh warna. Kala si bejo hewan peliharaan na’im mati, dinda datang menghibur na’im membawakan kelinci kesukaan dinda. Memecahkan tabungan berbentuk ayam demi membuat na’im tak bersedih kembali. Pelukan persahabatan disaksikan oleh langit cerah matahari memancar terang.****
20/11/2011
Oleh ;
Jarwati Xl-IPS.2
SMA PGRI 1 KUDUS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar