Senin, 22 Agustus 2011

cerita pendek BINTANG PERSAHABATAN

BINTANG PERSAHABATAN | OLEH : JARWATI


KUCERITA95@YAHOO.COM
FRIENDSHIP OF STAR
Ketika mimpiku tak begitu indah ku berharap agar semua mimpiku menjadi sebuah kenangan. Aku yang ingin mencari suasana baru dalam belajar,ku mencari sebuah sekolah dasar yang baru. Akhirnya sampailah juga tempat belajar yang aku inginkan. Begitu diriku sampai ditujuan dalam sekejap aku sudah merasa nyaman.
Teman-teman yang sebelumnya adalah teman masa kecilku sudah mengenal aku dengan baik. Pertama kali aku mengikuti mata pelajaran yang baru, ku duduk bertiga dalam satu tempat duduk. Lama-kelamaan akhirnya aku duduk dibelakang bersebelahan dengan wanto lelaki berdarah campuran sulawesi tenggara. Aku dan dia berteman baik.
Sampai suatu ketika kami menginjak di kelas 5,dia pun meninggalkan tanah jawa. Aku yang baru mengenal dia,merasa sangat kehilangan dia. Belum ada dalam dua tahun ini,sosok seorang teman yang perhatian denganku telah meninggalkan tanah jawa. Ia lebih memilih bertempat tinggal bersama keluarganya disebuah pulau di sulawesi tengggara.
Ketika wanto meninggalkan tanah jawa,aku berkenalan dengan dua orang perempuan. Mereka adalah ayu dan halimah. Ayu adalah sosok seseoranng yang penyabar. Sedangkan halimah sosok seorang yang egois.
Belum lama kemudian,seorang pengajar yang sangat kami kagum-kagumkan dan sangat kami sayang telah meninggalkan sekolah dasar yang aku tempati saat ini. Ia telah menginjakkan langkahnya disebuah sekolah dasar disebuah daerahnya. Aku yang tak rela beliau meninggalkan kami semua,meneteskan air mata. Kami semua bersedih karena beliau sudah tidak lagi mengajar disini.
Detik-detik perpisahan yang terakhir,disaat jam mata pelajaran usai. Efi,salah satu temanku menangis histeris sampai-sampai ia batuk. Halimah,salah satu sahabatku ia meneteskan air mata pula. Sampai akhirnya halimah memberikan sebuah kenang-kenangan yang berupa sepucuk surat.
Lewat diriku,ku berikan surat tersebut saat berjabat tangan untuk yang terakhir kalinya. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah kami pun masih meneteskan air mata yang tiada hentinya. Sesampai di rumah ku mencoba menahan air mata agar aku tidak malu. Tetapi begitu pintu kamar ku buka ku segera meluncur ke tempat tidur ku menangis dan meratapi kepergian sang pahlawan tanpa tanda jasa.
Hari berikutnya kami masih saja terfikir oleh keberadaan beliau. Mengingat masa-masa disaat beliau masih bekerja di sekolah ini. Begitu aku mengingat beliau,hati ini sedih disaat menjelang perpisahan yang terakhir. Rasa-rasanya tidak sanggup bila harus berpisah secepat ini.
Hari menjelang kenaikan kelas, sekolahku mengadakan acara liburan ke yogyakarta. Tepatnya di pantai selatan,museum Dirgantara Indonesia,dan disebuah bangunan bersejarah yang merupakan salah satu 7 keajaiban dunia. Namun semua itu hanya sia-sia. Karena tempat tujuan kami telah mengalami bencana gempa dan tempat wisata tersebut ditutup.
Tidak masalah dengan tempat tujuan kami itu. Karena setelah bapak/ibu Guru mengadakan diskusi kembali,akhirnya kami pun berdarmawisata di semarang. Tempatnya yaitu pertama ke museum Ronggowarsito atau yang lebih dikenal dengan museum Jawa Tengah. Tujuan yang kedua yaitu ke Kyai Langgeng.
Dan yang terakhir tidak berubah yaitu kesebuah bangunan bersejarah peninggalan hindhu-budha. Yang merupakan salah satu 7 keajaiban dunia. Hari minggu kamipun masih pergi berwisata ke tempat-tempat tadi. Aku begitu gembira ketika akan pergi berlibur.
Sebelum berangkat berwisata,aku menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan saat perjalanan nanti. Berangkat dari rumah sekitar pukul 04.00 wib segera ku bergegas menuju tempat. Dan pukul 05.00 wib sudah harus sampai di tempat perkumpulan. Udara dipagi hari yang masih bersih membuat aku kedinginan.
Diwaktu diriku kedinginan kain yang biru dan tebal telah membuat tubuhku hangat kembali. Sesampai tujuan,kamipun menunggu bus datang. Menunggu dan menunggu membuatku jenuh seketika. Namun demikian,dengan canda tawa yang dibawakan oleh teman-teman membuat kami semangat kembali.
Sampai akhirnya terlalu lama menunggu kejenuhan dan kelelahan. Bus wisata yang kami tunggu seketika telah datang. Rasa lelah dan jenuh berubah seketika setelah bus datang. Kami pun segera menuju bus dan duduk dengan santai.
Disepanjang perjalanan menuju lokasi,kami bercanda riang. Menikmati pemandangan disekitar. Di kanan kiri nampak terlihat bangunan yang sangat indah. Disuatu tempat nampak terlihat pelabuhan yang selama ini tak pernah ku bayangkan.
Begitu indah dan sekilas terlihat nelayan sedang mencari ikan di lautan lepas. Baru ku nikmati perjalanan yang begitu menyenangkan. Tak terasa sepanjang perjalanan kita lalui dengan canda tawa telah membuat aku kelelahan. Namun ternyata telah sampai di lokasi pertama.
Siswa-siswi berebutan keluar dari dalam kendaraan. Betapa senang hati kita. Didalam museum kami pun melihat-lihat koleksi-koleksi di museum tersebut. Di lantai dua,saat aku berjalan menaiki sebuah tangga tak sengaja aku jatuh terpeleset.
Pipiku menjadi merah merona karena ditertawakan oleh teman-teman yang melihat aku jatuh. Tapi diriku tetap menikmati suasana piknik dengan senang. Sampai suatu malam diriku terlelap di tempat duduk bus yang nyaman. Ditengah malam tiba,teman-teman yang masih menikmati suasana didalam bis menyanyikan sebuah melodi kenangan.
Lagu melow tersebut telah melekat dihatiku selalu. Sampai diriku menginjak di kelas 6 selalu teringat lagu kenangan bersama teman-teman. Terutama bersama kakak kelasku dahulu. Dahulu sewaktu bersenang-senang bersama.
Dan...suatu ketika aku,ayu dan halimah bertengkar karena suatu masalah yang kecil.
‘’eh ayu,kita ke kantin yuk.’’ Ajakku meninggalkan halimah.
Entah siapa yang telah mempengaruhi halimah sehingga dia tega menghianati persahabatan ini. Sedari kantin aku dan ayu bercanda tawa didalam kelas.
Tiba-tiba halimah datang menghampiriku dan memarahiku. Dengan raut wajah yang kesal tangan kanan telah mengenai pipiku. Aku sedih sekali melihat tingkah halimah seolah-olah dia bukan halimah yang aku kenal. Dia tetap saja memusuhiku.
Ayu yang mencoba menyejukkan suasana tak sengaja ia terkena gamparan halimah. Suasanapun menjadi panas seketika. Tangisan dan kemarahan telah membuat ruang kelas menajdi berantakan. Teman-teman yang lain,yang sedang menyaksikan peristiwa itu hanya terdiam membisu.
Angin dari arah utara telah membuat keadaan semakin memuncak. Halimah yang tiada hentinya memusuhiku telah membuat dia semakin mementingkan dirinya sendiri. Hujan deras pun mengguyur kediaman sekoalah kami. Hati ini pun semakin menjadi tak karuan.
Hari esok pun diawali dengan senyum yang indah. Namun tidak dengan sikap halimah ke aku. Semakin lamanya sikapnya pun menjadi-jadi. Ia menusukku dari belakang. Ia mencoba menjelek-jelekkan nama baikku didepan ayu.
Semakin aku dekat dengan ayu,semakin pula halimah menilai diriku yang tidak-tidak didepan orang-orang yang berada didekatku. Ia pernah berkata ‘’aku akan menghancurkan persahabatan kalian berdua. Lihat saja nanti!’’ ia mengatakanya dengan penuh kekecewaan. Tapi perkataan itu tidak pernah aku tanggapi.
Diary kecil yang biru ku tuliskan semua masalahku. Aku luapkan semua yang aku rasakan dalam diary kecil pertamaku. Ku duduk termenung melihat teman-teman bermain-main. Dibalik dinding garasi,disitulah kesendirianku bersama diary.
Ku tulis-menulis tiba-tiba segerembolan anak lelaki dari arah selatan datang menghampiriku. Ternyata mereka adalah selamet CS. Dengan sengaja mereka telah melempariku dengan batu kecil. Batu yang keras telah melayang mengenai kepalaku.
Aku yang cengeng,meteskan air mata satu persatu. Air mata yang jatuh mengenai tanah yang kering. Mereka tidak bosannya melempariku sampai datannglah sosok sahabat yang melindungiku. Sahabat tersebut adalah ayu yang datang menghampiriku bersama halimah.
Halimah yang merasa iba denganku telah menolongku dari mereka. Salah seorang temanku yang lain telah melihat kejadian itu telah melaporkan kepada pak sutris,seorang pengajar di kelas kami. Mereka pun disidang karena dengan sengaja melukaiku. Mereka yang tidak pernah suka dengan kehadiranku mencari ilmu di sekolah itu.
Andaikan oh detik itu wanto hadir disisiku. Mungkinkah dia menolongku dari mereka yang ingin menghancurkan hidupku.
‘’ayu,kamu kok pergi sama halimah. Kamu kan sudah janji sama aku kalau kamu nggak akan dekat-dekat lagi sama halimah.’’
‘’maafkan aku tris,aku nggak bermaksud menghianati persahabatan ini.’’
‘’udahlah ayu,kamu nggak usah mengelak lagi!’’
‘’eh tris,udahlah kamu tuh nggak usah lagi berteman dengan ayu! Dia tuh udah milih akuuntuk jadi sahabatnya satu-satunya!’’ kata halimah yang selalu saja menyakitiku.
Halimah selalu saja menyakitiku dengan kata-kata yang tak sepantasnya ia ucapkan. Hingga dia dengan sengaja mendorong diriku hingga jatuh ke tanah kering.
Kemudian ku membalasnya hingga jatuh pula. Kita pun saling mendorong dan mendorong. Tidak sedikit pula yang menyaksikan kejadian itu. Ia membalasku dengan menjambak rambutku.
Ia pun aku balas dengan menendang ia hingga jatuh ke lubang. Aku,ayu dan halimah meteskan airmata karena dengan kejadian itu telah membuat pipi kita menjadi merah delima. “ayo,,ayo,,ayo,ayo,,ayo,,ayo,,” begitulah kata mereka yang menyaksikannya. Mereka bersorak ria menyaksikannya.
Kita berhenti sejenak. Kami berebutan untuk jawaban atas pertanyaan yang kami berikan kepada ayu. Namun ayu hanya terdiam menangis melihat ini semua.
‘’ayu,kamu pilih siapa? Aku atau halimah yang udah menyakitimu.’’
‘’ayu,kamu lupa sama kejadian yang kemaren? Apa kamu lupa kalau kemaren lusa kamu udah aku bantu.’’ Paksa halimah.
‘’aku nggak tahu harus memilih siapa...karena kalian berdua adalah sahabatku yang baik.’’ Jawab ayu dengan raut wajah yang sedih.
‘’ayu,kamu nggak boleh gini! Karena aku dan halimah nggak mungkin bisa bersahabat kembali. Kamu kan tahu yu,kalau halimah mencoba mencelakai aku! Dia itu hanya ingin menghancurkan persahabatan kita...’’ ku berkata dengan wajah yang penuh memelaskan.
‘’ah aku nggak tahu! Aku bingung!’’ hiks,hiks,hiks... Ayu semakin bersedih mendengar perkataan dari kami.
‘’udah yuk,jangan bersedih lagi.’’ Ku mencoba menghibur ayu namun tak berhasil. Halimah yang berada di sampingku hanya tersenyum melihat kesedihan ayu.
‘’eh halimah,ngapain kamu senyum-senyum gitu! Apa kamu nggak kasihan melihat ayu bersedih! Sahabat macam apa kamu itu!’’ aku yang tak tahan melihat tingkah halimah telah memarahinya.
Lalu ia ku dorong hingga jatuh pula. Suasana pun menjadi semakin memuncak ketita kita berantem dengan agak hebat. Arik salah satu teman sekelasku telah mencoba berencana melaporkan kejadian itu kepada pihak sekolah. Aku yang tak ingin menanggung rasa malu karena cuma memperebutkan seorang sahabat.
Aku yang tidak ingin memperpanjang masalah, berlari meninggalkan tempat itu. Ku berlari menuju kamar mandi. Ku tutup dan ku kunci rapat-rapat pintu kamar mandi tersebut. Tidak sedikit orang yang berdatangan hanya untuk membuka pintu tersebut.
Diriku yang masih merasa malu tidak membuka pintu. Hanya didalam sendirian penuh dengan kesunyian. Menangis didalam ruangan yang sempit. Begitu pula dengan halimah didalam ruangan yang penuh dengan air.
Tetapi tak lama kemudian halimah pun meninggalkan kamar mandi. Tok...Tok...Tok...Tok...
‘’tris,trisna..buka pintunya soalnya ini di kelas mencatat. Ada gurunya tris..’’ kata pipit,wahyu,arik,efi,dan husni. Mereka mencoba menghiburku agar aku keluar. Namun semua itu hanya sia-sia aku masih saja tak keluar-keluar sampai istirahat tiba.
Hanya ayu yang telah berhasil membujuk diriku keluar dari ruangan itu. Aku keluar dengan mata yang masih berair. Air mata yang telah membasahi pipiku membuat mataku menjadi bengkak. Aku pun ke kelas untuk menenanngkan pikiran dengan sejenak.
Tiba-tiba halimah datang menghampiriku denngan wajah penyesalan. Entah apa lagi yang membuat halimah menjadi sadar kembali. Ia pun memohon maaf kepadaku. Ia memohon maaf atas segala tindakannya selama ini.****
Dipagi hari dimusim yang bahagia. Aku dan teman-teman membuat dance untuk pentas seni yang bertujuan untuk merayakan kelulusan kami. Saat latihan di tempat tinggalku tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Teman-temanku yang ikut latihan pun tak jadi pulang karena hujan turun.
Tanpa ku sadari wahyu,yang melihat diary milikku diambilah dengan diam-diam. Setelah hujan reda,pulanglah mereka. Deg...! begitu aku sadar akan diary kecil milikku ternyata sudah tak ada. Ku mencari sana sini namun tetap tak ada.
Keesokkan harinya,saat diriku tiba dikelas mereka semua melihat diriku dengan wajah yang kesal.
‘’heh tris,maksud loe tuh apa?!’’ tanya roy sambil marah-marah denganku.
‘’maksutnya?’’ jawabku tak tahu apa-apa.
‘’eh ini maksutnya apa?! Kenapa nama gue loe tulis dibuku ini!’’ kata roy sambil menyodorkan buku diary milikku.
‘’lho,kenapa diaryku bisa ada di kamu? Siapa yang ngasih ini ke kamu?’’ akupun tercengang ketika roy memperlihatkan diary itu.
‘’udah lah nggak penting dari siapa! Yang penting nggak usah nulis-nulis lagi kayak gini! Malu-maluin,ngerti nggak loe!’’ roy pun semakin naik darah.
Aku mencoba untuk menjelaskan semua ini namun kesempatan itu tak pernah diberikan. Teman-temanku yang percaya padaku mencoba menenangkan diriku yang menangis histeris ini.
‘’yaallah roy,,. Kenapa kamu nggak percaya sama aku? Bukan aku yang nulis... itu memang benar punyaku tapui bukan aku yng nulis....hiks..hiks...hiks... pokoknya yang nulis ini dapat balasannya yaallah... ini fitnah....! fitnah...! fitnah....! fitnah...! kalian semua akan dapat balasannya sendiri dari yang maha kuasa! Ingat itu! Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan’’ akupun semakin merintih menangis sampai aku jatuh dari tempat dudukku.
Wahyu yang sedang menyaksikannya tersenyum sendiri. Aku berfikir bahwa yang menuduh aku adalah wahyu. Namun aku tak ingin menuduh tanpa barang bukti. Belum tentu juga wahyu yang merekayasa semua ini.
Akhirnya dengan seiring berjalannya waktu, terbukalah sudah semua rekayasa yang dilakukan oleh wahyu. Sebelumnya aku mengetahui hal tersebut lewat perbincangan antara sumintri dan ayu. Lalu,waktu aku dituduh mengapa ayu tak pernah menceritakan hal tersebut kepadaku. Mungkin mereka semua takut dengan wahyu karena wahyu adalah ketua kelompok mereka.
Aku berfikir untuk yang kedua kalinya. Mengapa wahyu membenciku? Mengapa dia tega memulai ini semua? Mengapa pula ia yang membongkar semua rahasiaku didepan anak cwok?
Seandainya dia yang aku perlakukan seperti itu,apa ia juga tidak akan sedih? Memang apa salahku ke dia sehingga dia memulai permasalahan ini semua. Namun demikian dengan adanya sahabat-sahabat terbaikku yang berada didekatku aku sudah merasa senang. Begitulah hidup penuh dengan cobaan yang berliku.
Adanya ayu sebagai sahabatku hingga dewasa ini,aku bersyukur sekali. Karena Allah telah menurunkan seorang my best friend forever. Meskipun ia tak melanjutkan sekolahnya dari sekolah menengah pertama karena keadaan ekonomi. Ia tetap menjadi best friend forever.
Sahabat yang tak terpisahkan sampai maut yang akan memisahkannya. Itu semua adalah anugrah yang terindah dalam hidupku. Karena sosok seorang ayu adalah gadis yang mandiri. Karena itulah ia selalu lari kepadaku jika ia sedang mengalami kesusahan dalam menghadapi masalah.****
_SEKIAN_
OLEH : JARWATI
Kritik dan saran :
Kucerita95@yahoo.com

1 komentar: